Posted by: riobm | June 4, 2007

Killing Mud Softly

Copied from rovicky.wordpress.com

HIGH DENSITY BALL CHAIN (HDBC)

bola-bola-ajaib-2.pngBola itu terdiri atas empat bola yang merupakan gabungan dua bola besar berdiameter 40 cm, dan dua bola berdiameter 20 cm. Bola-bola ini memiliki densitas tinggi sehingga diharapkan tidak terlempar keluar lagi. HDCB yang setiap rangkaiannya terdiri dua bola besar yang berdiameter 40 cm dengan berat 200 kilogram dan dua bola kecil berdiameter 20 cm yang mempunyai bobot 160-170 kilogram. Dan per harinya maksimal dimasukkan 25 rangkaian. Jumlah untaian bola-bola beton total yang dipersiapkan berjumlah 375 untai, bola inilah yang telah dicetuskan para pakar fisika dari ITB.

 

Bagaimana kerjanya ?

Bola-bola beton ini akan menahan energy aliran yang sangat kuat dari bawah. Energi mekanis ini diharapkan akan mengenai bola-bola HDCB sehingga bola-bola ini akan saling bertumbukan, berputar, dan mengubah arus lumpur menjadi lebih turbulen (olakan). Perubahan energi ini diharapkan mengurangi energi aliran lumpur dari bawah, sehingga energi aliran yang keluar menjadi sangat lemah.

bola-bola-ajaib.png

Menurut pakar fisika ITB ini diharapkan akan mengurangi laju aliran hingga 70%. Memang metode killing mud softly ini tidak secara khusus didesign untuk mematikan semburan, tetapi hanya mengurangi laju aliran – Ini yang perlu diketahui bersama. bahwa mengurangi laju alirannya saja sudah akan membantu meringankan beban pengelolaan jumlah lumpur ini yang tercatat masih diatas 125 000 m3/hari.

Tingkat keberhasilannya belum diketahui, lah wong belum pernah ada yang mencoba. Risiko munculnya semburan baru, barangkali bisa tereliminir seandainya pengurangan laju alirannya atau pemampatannya perlahan-lahan. Itulah sebabnya penurunan bola-bola ini harus tepat, kalau terburu-buru dan menutup semburan dengan cepat ditakutkan muncul semburan lain, karena tanah disana sudah retak2. Sedangkan kalau perlahan-lahan malah bisa juga hanya turun jatuh kebawah atau ke dasar.

hdcb-1.png

Disebelah kiri ini dasar teori yang dipakai oleh Tim pakar dari ITB (Institut Tehnologi Bandung). Secara mudahnya gini. Kalau kamu mau jalan dari Blok M ke kota trus jalannya lurus lewat Jalan Sudirman – Thamrin – trus lurus ke Kota tentunya mudah. Apalagi kalau jalannya sep, pas lebaran pada pulang kampung misale. Nah dengan model seperti itu, tentunya sesampai di Mangga Dua kamu masih sehat dengan kekuatan penuh bisa blanja di ITC kan ?

Nah kalau jalannya macett trus kamu mesti pergi lewat jalan tikus bludas-bludus ngga bisa pakai mobil, terpaksa pakai ojek. Pasti kepanasan, lenggeh-lenggeh. Sampai di Bundaran HI saja sudah loyo, mungkin melewati Monas Merdeka Barat juga sudah pelan jalannya. Lah iya dikerjain sama lalu lintas yang ruwet.

Ide inilah yang dipakai sehingga diharapkan anda tidak terjebak mampet begitu saja tetapi masih bisa mengalir. Hanya dipaksa supaya tenaga anda habis dijalan karena kepanasan.

hdcb-2.pngJustru kalau anda mampet-pet secara mendadak akan berbahaya. Hal ini sangat disadari karena tanah-tanah dibawah sekitar Lusi ini sudah retak-retak. Sehingga akan lebih mudah memaksa keluar apabila dimatikan dengan mendadak. Itulah sebabnya ide menutup semburan dengan BOM dengan BLock maupun dengan selubung beton sangat tidak disarankan.

Menutup pelan-pelan akan lebih bagus ketimbang mak PET!. Seperti digambarkan disebelah ini.

Posted by: riobm | June 3, 2007

Kasus Bajar Panji I

Sebuah tulisan ringkas dari Dr Andang Bachtiar (mantan ketua IAGI-Ikatan Ahli Geologi Indonesia).

Istilah “mengebor tanpa casing” atau “lalai memasang casing” – sehingga mengakibatkan kejadian munculnya lumpur dalam skala massif ke permukaan – yang dijadikan argumen dari tuduhan banyak pihak (termasuk kepolisian) terhadap Lapindo merupakan istilah yang membingungkan. Karena sebenarnya yang terjadi adalah: dalam mengebor sumur Banjar-Panji-1 Lapindo “sudah” memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 feet, casing 20 inchi pada 1195 feet, casing (liner) 16 inchi pada 2385 feet dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 feet (Bahan presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Nah, ketika mereka mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 feet sampai ke 9297 feet, mereka “belum” memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang précis di kedalaman batas antara Formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung, yang dalam hal ini ternyata ketemunya di kedalaman 9297 feet tersebut. Dalam teknik pengeboran lapisan bumi, tentunya kita tidak mengebor lapisan baru dengan memasang casing menembus lapisan terlebih dulu, tapi setelah menembus/membuka lapisan baru tersebut menjadi lubang – barulah kita turunkan casing untuk menahan lubang supaya tidak runtuh, dan supaya dapat digunakan dalam proses eksplorasi selanjutnya (testing, produksi dsb).

Ada juga argumen yang dipicu oleh bocornya surat internal partner (Medco) ke media massa (Kompas, 14 Juni 2006) yang menyebutkan bahwa pada 18 Mei 2006, Medco sudah mengingatkan Lapindo sebagai operator untuk konsisten pada program, yaitu memasang casing 9-5/8 inchi di kedalaman 8500 feet. Maksudnya mungkin setelah memasang casing untuk melindungi lubang dari 3580 s/d 8500 feet itu, maka diperkirakan operasi pemboran akan aman di kedalaman-kedalaman berikutnya. Belum tentu juga! Pada saat itu mereka belum mengetahui sampai berapa dalam lagi mereka harus mengebor dalam kondisi tekanan tinggi (over-pressure) sehinga mencapai puncak Formasi Kujung yang relatif tekanannya lebih rendah dari Formasi Kalibeng yang sedang mereka tembus di kedalaman 8000-9000an feet tersebut. Yang menarik lagi dari argumen-argumen yang mendasari surat yang ”bocor” tersebut adalah:

  1. Sebenarnya bagaimana bunyi program casing 9-5/8 yang tertulis dalam buku program pemboran Banjar-Panji-1?
    • Kalau bunyinya: “Pasang casing di kedalaman +/- 8500 feet atau apabila telah menembus puncak dari Formasi Kujung; tergantung dari mana yang dicapai terlebih dulu” maka dalam hal kedalaman 8500 feet telah dicapai tapi belum menyentuh puncak dari Formasi Kujung, seharusnyalah pemboran dihentikan untuk evaluasi dalam rangka memasang casing.
    • Tetapi kalau bunyinya: “Pasang casing di puncak Formasi Kujung yang diperkirakan pada kedalaman +/-8500 feet”, maka pemasangan casing pada kedalaman 8500 feet bukan sesuatu yang mandatory (harus dilakukan) tetapi hanya perkiraan saja; sementara tujuan utamanya adalah memasang casing di puncak Formasi Kujung yang dalam hal ini ditembus pada kedalaman 9297 feet (pada saat terjadi loss-circulation atau terhisapnya lumpur ke dalam lubang pemboran karena diasumsikan sudah memasuki Formasi Kujung yang sangat berongga).
  2. Menurut informasi internal dari Lapindo bahwa sebenarnyalah mereka berhenti mengebor pada kedalaman +/- 8700 feet, yaitu setelah menembus 8500 feet tapi belum juga mendapatkan puncak Formasi Kujung (informasi ini harus dicek kebenarannya dengan melihat Daily Drilling Report). Dalam operasi pemboran, diperlukan “rat-hole” (lubang tambahan di bawah target penghentian pemboran) untuk mendapatkan informasi lengkap dari kedalaman target yang bisa di-cover oleh panjangnya alat logging (perekam sifat lapisan batuan di lubang pemboran). Dalam hal ini rat-hole tersebut panjangnya 200 feet dibawah 8500 feet. Data keratan batuan (cuttings) dari kedalaman +/- 6100 feet sampai 8700 feet semuanya menunjukkan bahwa sumur Banjar-Panji-1 menembus lapisan batupasir pada interval tersebut. Demikian juga info yang didapat dari alat perekam lapisan batuan (logging) juga menunjukkan hal yang sama (open hole log ini-pun harus di-cek kebenaran interpretasinya)
  3. Karena ternyata masih belum menembus puncak Formasi Kujung (dibuktikan dengan terus menerus munculnya lapisan batupasir s/d kedalaman 8700 feet), dan karena masih berada pada interval batupasir (yang secara prosedur teknis keselamatan pemboran TIDAK COCOK UNTUK DIPASANGI CASING-SHOE karena kekuatannya terhadap tekanan akan sangat lemah dibandingkan dengan batulempung), dan juga belajar dari pengalaman pemboran Porong-1 yang memasang casing 9-5/8” masih di interval overpressure Kalibeng – menyisakan puluhan feet overpressure Kalibeng Clay untuk dibor lagi sebelum tembus Formasi Kujung – dan setelah itu mengalami “loss” dan “kick” berulang-ulang ketika sudah menembus Kujung (sehingga harus merelakan sumur Porong-1 sebagai sumur gagal: disemen “plug” dan ditinggalkan), maka keputusan untuk tidak memasang casing 9-5/8” di 8500 feet merupakan keputusan yang SANGAT RASIONAL, TEKNIKAL, DAN AMAN (SAFE) pada waktu itu.
  4. Tentu saja keputusan untuk meneruskan pemboran tanpa memasang casing 9-5/8” terlebih dulu (setelah run logging pada 8700-an feet) harus didasarkan pada prasayat (asumsi) bahwa:
    • Seluruh rangkaian casing dangkal sampai intermediate (30”, 20”, 16”, dan 13-3/8”) telah terpasang dan TERSEMENKAN dengan sempurna, sehingga kalau terjadi tendangan (kick) dari daerah lubang terbuka di bawah casing-casing tersebut, maka rangkaian casing tidak akan goyang, rusak, atau bahkan jebol. Perlu dicatat bahwa pada waktu mengebor Porong-1, Huffco Brantas juga mengalami loss & kick yang dapat diatasi di permukaan dan tidak menyebabkan retakan di bawah permukaan (underground blow-out) karena casing-casing dangkal & intermediate-nya terpasang sempurna.
    • Kekuatan menahan tekanan pada sepatu casing (casing-shoe) yang terdalam (yaitu 13-3/8” pada 3580 feet) – yang diukur dari proses Leak-Off Test (LOT) sebelum mengebor lebih dalam dari 3580 feet – benar-benar seperti yang dituliskan dalam laporan pemboran, yaitu: 16.4 ppg EMW, dan maksimum berat lumpur yang dipakai dalam pemboran berikutnya sampai kedalaman maksimum 9580 feet tidak melebih 15.4 ppg (dengan menghitung ECD tambahan 1 ppg).
  5. Prasyarat (asumsi) butir 4-a merupakan prasyarat mutlak yang harus diyakinkan pada waktu selesai logging pada 8700 feet dan memutuskan untuk terus mengebor sampai ketemu puncak Formasi Kujung. Apabila pada waktu itu (bahkan pada waktu di awal-awal pengeboran interval 3580-8700 feet) proses evaluasi kekuatan casing-casing yang sudah terpasang tidak dilakukan atau dilakukan dengan seadanya atau dilakukan tanpa mempertimbangkan lebih lanjut tentang factor keamanan-nya lebih rinci, maka hal ini patut disayangkan. Pada kenyataannya terjadinya under-ground blow-out mengindikasikan bahwa casing 13-3/8” telah rusak dan bahkan “menjepit” pipa pada waktu mereka memutuskan untuk mencabut rangkaian pipa secara keseluruhan (Lihat Bahan presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Apabila pada saat itu telah diyakini (dan diketahui) bahwa kondisi casing yang telah terpasang TIDAK AMAN, maka selayaknyalah pengeboran dihentikan saja dan dicarikan rekayasa untuk memperbaiki kondisi casing yang tidak aman tersebut, …. sampai aman,.. baru diteruskan pemborannya. Tetapi apabila kondisi casing yang tidak aman tersebut TIDAK BISA DIAKALI (tidak bisa dikoreksi), maka pilihan terburuknya adalah menge-“plug” lubang dengan semen, merancang ulang disain casing dan mengimplementasikannya di casing-casing dangkal, baik dengan meneruskan pemboran di lubang yang lama, maupun side-track, ataupun… membuat lubang baru.
  6. Prasyarat (asumsi) butir 4-b merupakan prasyarat yang harus diikuti pada waktu sudah memutuskan untuk mengebor lanjut dari 8700 feet-an sampai ketemu dengan puncak Formasi Kujung. Apabila sampai kedalaman 9580 feet dan berat lumpur sudah 15.4 ppg tetapi tetap belum menembus Formasi Kujung (karena prediksi dari seismic meleset), maka mau tidak mau pengeboran harus dihentikan. Selanjutnya: plug dengan semen, mau tinggalkan sumur atau side-track (tentunya setelah evaluasi seismic lagi) terserah kepada operator, tergantung seberapa kuat secara ekonomis Lapindo berani beresiko lagi dengan ketidakpastian interpretasi tsb).
  7. Yang terjadi ternyata: pada 9297 feet matabor menembus formasi yang menyebabkan LOSS CIRCULATION (dengan berat lumpur 14.7ppg??), yang besar kemungkinan itulah puncak dari Formasi Kujung yang ditunggu-tunggu. Prosedur yang dilakukan pada waktu itu adalah mengatasi loss dengan LCM, membuatnya menjadi static, kemudian mencabut rangkaian untuk diganti dengan Open-ended Drill-pipe dalam rangka menyemen-plug zona loss Kujung tersebut. Barulah setelah zona loss ditutup semen, maka casing 9-5/8” akan dipasang précis di puncak Formasi Kujung tsb. NOTHING WRONG dengan rencana tersebut. Malah memang sebenarnya itulah yang harus dilakukan.
  8. Tetapi dalam proses mengimplementasikan rencana tersebut terjadilah hal-hal dibawah ini:
    • Tendangan (kick) pada waktu matabor sdh diangkat pada kedalaman 4241 feet (masih di open-hole). è Ini kemungkinan disebabkan oleh kecepatan POOH yang terlalu cepat (effek swabbing), atau pada saat akan mencabut, hi-vis pill tidak cukup berat menahan tekanan formasi (dari sepanjang interval 4241-9297 yang terbuka tersebut)
    • Tendangan dapat diatasi dengan menutup BOP, menyalurkan ke diverter yang keluar berupa gas H2S dan air. Ini juga OK, sesuai dengan prosedur. Hanya saja setelah itu dihitunglah killing mud berdasarkan info SIDP dan SICP yang kemungkinan hasil perhitungannya dan juga “the real” killing mud yang dimasukkan beratnya melebihi kekuatan daya dukung casing shoe di 3580 feet,.. sehingga menyebabkan retakan di sekitar casing shoe, goyangnya casing 13-3/8” (mungkin semennya kurang =è musti diteliti juga) yang terus merembet ke atas, akhirnya muncul ke permukaan membawa lumpur dari Kalibeng Clay (2000-6000 feet). Harap dicatat: letak casing shoe 13-3/8” ada di tengah-atas dari interval Lempung Kalibeng ini, sehingga material-material inilah yang akhirnya terbawa ke permukaan.
    • Menganggap bahwa kick sudah bisa diatasi, maka usaha pencabutan rangkaian pemboran diteruskan. Tetapi yang terjadi: STUCK di dalam casing. Hal ini ada 2 kemungkinan penyebabnya: “pack-off” dari cutting, material batuan yang ikut terbawa ke atas pada waktu kick telah membuat casing menjadi “choked-off” sehingga menyempit, atau terjadi CASING COLLAPSE, yaitu casingnya mengkerut di titik terjadinya stuck karena ada tendangan tekanan dari samping yang tidak dapat ditahan karena semennya tidak bagus. Manakah diantara keduanya yang benar: SNUBBING UNIT akan menjawabnya. Jika snubbing unit dapat melewati titik jepitan hanya dengan “washing” the hole maka berarti telah terjadi “pack-off” tapi bila snubbing unit tidak bias melewatinya, berarti casingnya memang telah mengkerut.

Dari uraian diatas, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa permasalahannya bukan karena tidak memasang casing 9-5/8” di 8500 feet. Tapi karena masalah-masalah lain. Tentunya Tim Investigasi-lah (Pak Rudi Rubiandini dkk) yang nantinya dapat menjelaskan secara rinci kepada kita semua apa sebenarnya masalah yang terjadi. Merekalah yang punya previllege melihat dan menelisik data-data yang ada. Kita hanya dapat mengamati dari kejauhan sambil mencoba menganalisis dari info-info berseliweran yang keabsahannya belum tentu benar. Hanya saja, kalau menggunakan logika-logika operasional pemboran secara umum, maka hal-hal seperti diataslah yang dapat kita sumbangkan kepada anda semua. Belum tentu benar. Harus diTEST , DICEK , DIKRITISI dengan menengok, memeriksa, melihat data2nya langsung.

Posted by: riobm | June 3, 2007

Underground Blowout

Copied from rovicky.wordpress.com

Blow Out Jadul

Dahulu ketika awal-awal eksplorasi minyak di bumi ini, kejadian sumur yang muncrat dengan minyak yg menyembur ke atas, merupakan kejadian yg mengasyikan dan tanda-tanda kesuksesan eksplorasi. Pada waktu itu kesadaran keselamatan dan lingkungan belum secanggih saat ini, sehingga ketika terjadi semburan mereka (para explorer) berfoto mengabadikan penemuannya.

Disebelah ini BO yang terjadi ketika memperoleh minyak di lapangan Spindletop tahun 1900. Sumur ini diperkirakan memuncratkan minyak 3 juta galon (lebih dari 12 000 meter kubik) atau sebesar 80 000 (BPH) Barrel oil setiap hari, sebuah angka produksi yg sangat sulit dijumpai saat ini. Bandingkan dengan lapangan minyak di Indonesia saat ini.

Saat ini peristiwa muncratnya minyak harus dicegah karena alasan keselamatan serta lingkungan. Mulai saat munculnya kesadaran inilah, maka muncratnya minyak (fluida) dari dalam ketika melakukan pengeboran dianggap sebagai musibah atau kecelakaan operasi, karena tidak hanya minyak yg keluar namun juga air dari dalam bumi termasuk material batuan dapat ikut ‘mecotot’ keluar.

Aliran fluida pengeboran

Dalam kondisi normal, pengeboran dilakukan dengan memasukkan fluida (lumpur pemboran) dari dalam pipa bor sebagai media sirkulasi. Sirkulasi ini diperlukan salah satunya berfungsi untuk menahan tekanan fluida dari dalam tanah. Dalam kondisi normal besarnya tekanan fluida didalam tanah itu sama dengan tekanan tinggi kolom air, masih ingat hukum Pascal, kan ? itu tuh yang rumusnya tekanan sama dengan hasil kali beratjenis x tinggi x gravitasi. Nah kalau tingginya (dalah hal ini kedalaman) diketahui kan kita tahu seberapa besat tekanannya. Tekanan didalam tanah itu bisa saja melebihi tekanan tinggi kolom air sehingga fluida yg dimasukkan harus memiliki beratjenis lebih besar dari BJ air.

Ini gambar kalau tidak dipompakan lumpur dari atas

Kalau sedang dipompakan maka alirannya jadi agak rumit ya ? Tapi coba perhatikan adanya penambahan dan kehilangan lumpur ketika sedang ngebor.

“Lost” dan “Gain”

Istilah “lost and gain” dalam operasi pengeboran ini sangat lazim dan sangat sering terjadi. Saat ini sudah ada alat yg disebut BOP (BlowOut Preventer), alat ini yang akan digunakan ketika terjadi lost-gain, sebagai katup pengaturnya. Apabila beratjenis lumpur pemboran memiliki berat yg lebih berat dari tekanan formasi maka akan terjadi masuknya lumpur ke formasi yg porous. Lost merupakan kejadian ketika lumpur masuk ke formasi ini. Apabila BJ lumpur terlalu kecil, maka lumpur tidak kuat menahan aliran fluida dari pori-pori batuan. Lah, ya saat itu terjadi “gain” atau adanya tambahan fluida yg masuk kedalam lubang sumur. Kalau hal ini tidak teratasi atau terlewat karena proses penyemburannya sangat cepat maka aliran fluida dari batuan didalam tanah ini terjadi terus menerus, Seterusnya fluida akan muncrat keluar melalui lubang sumur dan lubang ditengan pipa pemboran. Ini yang disebut sebagai semburan liar atau “blowout”. Yang keluar bisa berupa minyak, gas, ataupun air dan bahkan campuran.

Kondisi tekanan masing-masing lapisan di dalam bumi sana itu tidak seragam, juga tidak di setiap tempat sama. Tekanan fluida pada Batugamping (karbonat) di formasi Kujung di BD-Ridge yang memanjang dari lapangan BD ke daerah Porong ini, berbeda dengan Bagtugamping kujung di Laut Jawa. Berbeda pula perilaku dan sebaran tekanannya dengan batugamping di Baturaja Sumatra, berbeda pula dengan yang di Irian. Memang secara mudah semakin dalam,maka tekanannya semakin besar. Namun ada kalanya sebuah lapisan mempunyai tekanan yg rendah atau bahkan bila disetarakan dengan tinggi kolom air memiliki tekanan dibawah berat jenis air. Ketika ada dua zona tekanan yg berbeda inilah pen-design sebuah sumur harus jeli. Harus tahu dimana harus memasang selubung (casing) yang tepat. Pipa selubung (casing) ini berfungsi untuk mengisolasi zona bertekanan tidak normal, sehingga penanganannya lebih mudah tidak menimbulkan komplikasi.

Design sumur

Nah ketika komplikasi tekanan ini sudah diketahui dari sumur-sumur sebelah-menyebelahnya maka design sumur harus lebih baik dari sumur sebelumnya. Untuk pertimbangan bisnis pada saat ini ada dua hal yg harus diperhitungkan paling dahulu yaitu pertama keselamatan dan kedua keselamatan. Hampir semua bisnis memang mendengungkan keselamatan harus lebih didahulukan, keselamatan pekerja dan keselamatan lingkungan. Nah setelah itu baru memperhitungkan biaya. Nah design sumur inilah yg dipakai sebagai pegangan ketika operasi.

Komplikasi lost-gain

Ketika terjadi komplikasi lost dan gain ini perlu penanganan dengan teknik khusus. Kedua problem ini ditangani dengan cara yang sangat khusus pula. Namun kalau hal ini tidak teratasi sangat mungkin terjadi “cross-flow”, yaitu fluida yg bertekanan tinggi memasok ke batuan yg memilki tekanan fluida rendah. Seandainya hal ini terjadi terus menerus maka terjadilah underground blow out, atau semburan liar didalam tanah. Yang seaandainya berkelanjutan dapat pula terjadi seperti apa yg terlihat di BJP-1.

Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)Untuk kasus di BPJ ini semburan liar telah terjadi dengan material lumpur yg keluar dari lubang-lubang yg bukan dari lubang bor. Lumpur itu telah keluar melalui celah-celah yg terbentuk akibat tekanan tinggi dari dalam tanah. Banyak hal yg harus diketahui sebelum berusaha menghentikan semburan liar ini antara lain : – Dimana titik-titik lubang jalan keluarnya lumpur ini – Berapa tekanan bawah permukaan tempat keluarnya. – Melihat material yg sudah keluar perlu diketahui bagaimana bentuk lubang bor saat ini. – Setelah diketahui tentunya perlu juga menentukan peralatan apa saja yang diperlukan. – dll Tentusaja kita prihatin akan hal ini. Namun dengan pengetahuan yang benar semoga kekhawtiran ini menghasilkan cara yg tepat untuk mengatasi.

Posted by: riobm | June 3, 2007

The Amazing Child

Image

“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya.” (QS Al-Hijr: 15)

Demikian Allah subhaanahu wata’aala berfirman, dan kebenaran mutlak atas firmanNya. Al Quran yang telah diturunkan akan senantiasa dijaganya, tiada satu makhlukpun yang berkuasa untuk menghapus hukumnya dan menghilangkan pengaruhnya dari jiwa hamba-hamba-Nya yang suci. Dia yang membuat aturan dan undang-undang dasar hidup makhluknya. Maka hanya Dia pula yang memiliki kuasa untuk menghancurkannya atau mengokohkannya.

Anak kecil ini (sebagai bukti kebesaranNya) adalah nyata adanya, sejak umur 3th, kedua orang tuanya (Hafidz & Hafidzah Al Qur’an) telah memperkenalkan Al Qur’an kepada Husein, putranya. Dan dalam tempo 2,5 th ia dapat menghafal AlQur’an beserta makna dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Posted by: riobm | June 2, 2007

Lumpur Sidoarjo

Evolusi Rekayasa Penanggulangan

Pengabaian Ketidakpastian Bawah Permukaan

Sebuah tulisan ringkas dari Dr Andang Bachtiar (mantan ketua IAGI-Ikatan Ahli Geologi Indonesia).

 

Berita di berbagai media hari ini (Sabtu 12 Mei 2007) menyebutkan bahwa berdasarkan ekspose di hadapan Presiden oleh Tim Jepang yang diendorse oleh para pejabat pengarah BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) maka akan dicoba terapkan teknologi ‘double cover dam” untuk mengurangi dan -kalau bisa- mematikan semburan Lumpur Sidoarjo yang sudah berlangsung hampir setahun lamanya. Jadi, setelah para ahli pemboran gagal (belum selesai) dengan snubbing unit, side-tracking, relief well 1 dan 2, kemudian para ahli fisika gagal (belum selesai) dengan bola-bola beton-nya, maka tibalah saatnya para ahli sipil-konstruksi dan geoteknik mencoba dengan rekayasa penanggulangannya.
klik untuk memperbesarPrinsip dasar rekayasanya sebenarnya persis sama dengan ide yang pernah dikemukakan oleh ahli geologi Arif Budiman di milis yang lalu, dimana semburan lumpur akan diisolasi di luasan diameter semburannya dengan “pipa” berdiameter 50-meter (asumsi diameter semburan) yang mempunyai panjang (tinggi) lebih tinggi dari tinggi maksimum semburan yang pernah tercatat (25 meter?). IAGINET Juli-Agustus 2006 Note: dalam detik.com disebutkan bahwa diameter dam (atau “pipa” dalam tulisan ini) adalah 120 meter dan tinggi dam (atau “pipa”) 40 meter. Diharapkan lumpur yang terkonsentrasi di kolom pipa tersebut akan dengan sendirinya menekan (“counter weight”: istilah Tim Jepang-nya) tenaga semburan dari bawah, sehingga mengurangi volume semburan dan kalau bisa bahkan mematikannya. Sementara itu dengan menerapkan rekayasa separasi gravitasi maka lumpur yang sudah ter”contain” di dalam pipa diameter 50 meter tersebut akan dengan mudah dialirkan ke Kali Porong, dimana diharapkan hanya airnya yang mengalir (dengan beda relief tinggi pipa-ke-kali-porong 20 meter plus), sementara lumpur/padatannya akan tertinggal menekan tenaga semburan dari bawah. Mengapa perlu menunggu sampai Tim Jepang alias orang asing yang menceritakannya ke Presiden, sementara ide-ide dan konsep rekayasa serupa sudah beredar lama di kalangan para ahli Indonesia? Hal ini tidak terlepas dari tidak efektif dan tidak efisien-nya networking antara para professional, saintist, periset dan asosiasi profesi dengan para birokrat dan teknokrat pengambil kebijakan di Indonesia.


Dari dalam ke permukaan


Dari keseluruhan rangkaian evolusi rekayasa pemboran – fisika – konstruksi sipil untuk penanggulan semburan terlihat bahwa pendekatan saintifik-teknis berkembang (atau malah ter-reduksi) dari pendekatan bawah permukaan dalam (deep sub-surface), ke pendekatan bawah permukaan dangkal (shallow sub-surface), dan akhirnya (hanya) menggunakan pendekatan permukaan (surface). Apakah ribuan ahli rekayasa kebumian Indonesia sudah menyerah kepada “monster” di dalam bumi sana yang terus menerus menyemburkan lumpur, sehingga sekarang hanya berusaha coba-coba (trial-and-error) mengatasi efek permukaan dari semburannya itu saja? Saya amati dari berbagai pembicaraan di forum-forum ilmiah resmi maupun tidak resmi dan di milis-milis kaum professional kebumian bahwa sebenarnyalah ribuan orang pandai di negeri ini masih sangat-sangat perhatin (concern) dan berharap bisa berkontribusi dalam usaha penanggulangan semburan tersebut. Termasuk sebagian diantaranya yang menganalisis bahwa karena penyebab semburan tersebut adalah proses geologi (gempa, gerakan tektonik lateral yang sudah matang memicu mud diapir menjadi mud-volcano dan juga karena proses hidrotermal) dan karena sekarang semburan lumpur sudah menjadi mud-volcano, maka tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mematikannya. Sayangnya informasi teknis-saintifik tentang data awal, data monitoring, dan operasi penanggulangan semburan tidak tersedia untuk diakses secara public seperti pada umumnya di kasus-kasus bencana gempa, tsunami, dan banjir. Mungkin karena Lumpur Sidoarjo ini sejak awalnya sudah menjadi masalah bisnis-hukum-politik, maka bagi beberapa pihak pengungkapan data teknis-saintifik tersebut menjadi sangat riskan dan membahayakan kepentingan bisnis-hukum-politik mereka. Tapi satu hal yang pasti: dari waktu ke waktu korban dan kerugian terus bertambah; genangan makin meluas, infrastruktur makin banyak rusak dan terancam, dan jumlah jiwa manusia yang terdampak makin besar. Seberapa bijaksana kita mengambil hikmah dari kegagalan-kegagalan penanggulangan semburan sebelumnya untuk memperbaiki strategi penanggulangan kita berikutnya? Tulisan ini mencoba mengungkapkan – berdasarkan informasi yang tersedia secara publik – kelebihan dan kekurangan metode/pendekatan penanggulangan semburan dalam sudut pandang orang yang sedikit lebih mengerti tentang bumi daripada orang kebanyakan, untuk dapat kita ambil manfaatnya dalam merencanakan penanganan (bukan hanya mematikan) semburan Lumpur Sidoarjo.

 

Ketidakpastian bawah permukaan

 

Asumsi dasar dari Tim Pemboran yang melaksanakan program snubbing, side-tracking dan relief well adalah bahwa semburan Lumpur Sidoarjo diakibatkan oleh fluida bertekanan tinggi dari kedalaman 6000-9000 kaki di lubang bor Banjar Panji – 1 yang bergerak vertikal menggerus lempung di kedalaman 3000-6000 kaki membentuk lumpur. Lolosnya fluida tersebut dikarenakan adanya underground blow-out pada proses operasi pemboran. Lumpur dari gerusan tersebut kemudian keluar lewat rekahan di sekitar kaki selubung (casing shoe) di 3580 kaki, dimana rekahan tersebut terhubung ke bidang lemah yang terbentuk sebelumnya karena efek tektonik regional dari dalam bumi sampai ke permukaan. Asumsi tersebut didasarkan pada analisis data teknis pemboran dan data geologi. Sejauh menyangkut data geologi bawah permukaan, Tim Pemboran dibantu oleh analisis para ahli geologi yang menghitung porositas dan tekanan batuan di kedalaman 6000-9000 kaki untuk bisa layak dianggap sebagai “reservoir” pemasok fluida pada bencana semburan ini. Beberapa analisis lainnya juga dilakukan oleh para ahli geologi di Tim Pemboran ini, tetapi implikasi-nya pada perencanaan dan operasi pemboran tidak terlalu signifikan; seperti misalnya: temuan bahwa ternyata posisi sumur BJP-1 berada di jalur zona Sesar Watukosek dan penamaan formasi geologi lokal yang ditembus oleh sumur BJP-1. Analisis geologi maupun data pemboran dari Tim Pemboran yang menunjang asumsi untuk dilakukannya operasi snubbing, sidetracking dan relief well tidak pernah bisa menampilkan image bawah-permukaan secara meyakinkan dan langsung; paling jauh hanya berupa model, sketch, dan logika-logika perhitungan. Disinilah ketidak-pastian itu muncul. Berdasarkan data pemboran dan data geologi yang sama ditambah dengan re-analisis data seismik, say lebih cenderung menyimpulkan bahwa sumber asal lumpur Sidoarjo (air dan padatannya) berasal dari lapisan lempung di kedalaman 3000-6000 kaki. Tapi karena memang saya tidak terlibat langsung dengan keseluruhan operasi penaggulangan (hanya sebagai pengamat independent dari luar), maka tentu saja analisis semacam kepunyaan saya tersebut tidak perlu banget dipertimbangkan oleh Tim Pemboran. Pada saat itu (dari Juni s/d Agustus 2007) sebenarnya ada pula tim geologi/geofisik yang berbeda yang dibentuk oleh Lapindo sedang aktif mengakuisisi data tambahan bawah permukaan berupa VLF-EM (very low frequency electro magnetic), gravity dan micro-gravity data, VES (vertical electric survey alias geolistrik), dan data penurunan tanah memakai GPS station. Peta yang dihasilkan dari interpretasi berbagai data baru tersebut dimanfaatkan oleh Tim Pemboran untuk menentukan dan mendisain lokasi tapak pemboran (terutama relief well). Sayang sekali bahwa survey-survei geofisik di atas tidak pernah bisa menampilkan image bawah permukaan tepat di areal seluasan diameter pusat semburan, karena tentu saja akuisisi datanya sulit dilakukan karena harus berhadapan dengan semburan lumpur panas langsung. Interpretasi data VLF-EM-pun sampai sekarang tidak pernah bisa menampilkan geometri dan hubungan semburan dengan lubang bor BJP-1, padahal sampai saat ini hanya VLF-EM-lah yang punya tingkat keterincian dan akurasi image sampai skala operasional trayektori pemboran maupun trayektori insersi bola-bola beton maupun (terutama) kondisi tapak di dalam area semburan untuk konstruksi “double cover dam”. Tim Pemboran menghentikan rangkaian kegiatannya sampai di Relief Well – 2 karena faktor keamanan tapak permukaan yang terus menerus bergerak. Selain itu hasil sementara dari RW-1 dan RW-2 mengindikasikan bahwa pemboran masih belum mampu mengatasi masalah di “combat-zone” kedalaman 3000-an kaki. Mereka masih belum bisa menembus zona ini karena ternyata setiap kali turunkan pipa setelah penyambungan, rangkaian pipa seolah-olah ditendang kembali oleh tekanan yang ada di zona ini sehingga hasil akhirnya kedalaman menjadi makin lama makin dangkal. Sayangnya data pemboran, tekanan, rheology lumpur, cuttings, dan log-log yang dihasilkan dari proses pemboran relief well juga belum sepenuhnya dibuka untuk bisa direview oleh kalangan para ahli, sehingga ketidak-pastian bawah permukaan di daerah sekitar semburan tersebut makin menjadi-jadi.

 

Riset (survey): tabu

 

Ketidak-pastian pemahaman tentang kondisi bawah permukaan di daerah bencana lumpur Sidoarjo lebih diperparah lagi dengan tidak dilakukannya survei-survei lebih lanjut. Diantara survei-survei tersebut adalah: akuisisi berkala micro-gravity, akuisisi ulang VLF-EM dengan modifikasi strategi lapangan untuk mendapatkan data memotong pusat semburan, akusisi data GPR (ground penetrating radar) untuk mengetahui geometri dangkal pusat semburan, echo sounder survey, dan juga monitoring perubahan air tanah di sekitar daerah bencana serta monitoring munculnya semburan-semburan baru yang lebih minor sifatnya (jumlahnya s/d data terakhir Pebruari 2007 berjumlah 40 titik). Pada tataran geologi permukaan, survei-survei kita yang terkait dengan pemahaman fenomena mud-volcano juga sepi-sepi saja. Padahal sampling berkala lumpur dan sediment yang keluar dari semburan harus selalu dilakukan; pengukuran temperature, salinitas, komposisi lumpur/air juga harus rutin.Yang dimaksudkan dengan “kita” tersebut diatas seharusnya adalah TimNas (yang sekarang jadi BPLS), Lapindo sendiri, lembaga-lembaga pemerintah terkait (BPMigas, BG-ESDM, Lemigas, KLH, LIPI, BPPT dll), dan juga Perguruan Tinggi. Malahan lebih sering terdengar (dan sebagian dari kita merasa bangga mengungkapkannya) bahwa Tim dari Rusia, dari Jepang, dari Italia, dari Amerika, dll berdatangan ke lokasi satu-satunya di dunia tersebut untuk mempelajari fenomena lahirnya gunung lumpur (mud-volcano) baru, tentunya dengan melakukan survey-survei, sampling dll yang terkait dengan data geologi permukaannya. Ketika saya kemukakan keprihatinan saya pada langkanya survei-survei tersebut jawaban sebagian kalangan yang berwenang pada umumnya hampir bernuansa seragam: “ yang kita butuhkan adalah real & direct action untuk mematikan semburan, bukan survei-survei atau riset….”. Atau jawaban yang punya dimensi masalah lain lagi adalah: “ waduh, gimana urusan dananya? lha wong untuk keperluan real-direct action dan operasional sehari-hari saja flow dananya tidak jelas,.. dsb..” Dengan tulisan ini saya ingin menyadarkan para pengambil kebijakan di level manapun dalam urusan Lumpur Sidoarjo ini bahwa: tanpa riset/survei geologi-geofisik yang benar (yang biayanya sangat jauh lebih kecil dari usaha langsung penanggulannya), maka rekayasa penanggulangannya akan sia-sia dan buang-buang duit saja.

 

Geometri Corong?

 

Program insersi bola-bola beton di bulan Maret 2007 yang lalu dilakukan bukan untuk mematikan semburan, tapi lebih ke rekayasa untuk menghambat laju alir lumpur dengan menggunakan prinsip hukum Darcy. Meskipun banyak cemoohan dan ketidaksetujuan terhadap program ini (terutama dari kalangan pemboran dan penganut paham tektonik regional pemicu semburan), tetapi aspek positif-nya juga perlu kita lihat. Mereka berhasil menurunkan bola sampai kedalaman minimum 1000 meter (3000an kaki), yang termonitor lewat 2 independent measurement (pressure gauge dan benang). Mereka juga berhasil meng-image separoh dari geometri dangkal semburan (menggunakan echo sounder yang dimodifikasi khusus), dimana interpretasinya mengindikasikan geometri corong dengan lebar corong di permukaan +/- 50 meter. Peningkatan kadar gas H2S yang dilepaskan oleh semburan bersamaan dengan penambahan jumlah bola-bola beton yang di-insersikan diinterpretasikan sebagai indikasi positif penurunan tekanan di bawah permukaan, meskipun alur pikir dan argumentasi-nya masih perlu untuk dichallenge lebih lanjut. Saat ini program insersi bola-bola beton juga bernasib sama dengan program Tim Pemboran, tidak (belum) dilanjutkan (lagi) karena kondisi permukaan tempat bekerja tidak lagi memungkinkan. Secara pribadi, saya lebih melihat program insersi bola-bola beton yang maksimum perencanaan dananya 4 Miliar Rupiah tersebut (mungkin baru keluar dana sekitar 1 Miliar Rupiah karena berhenti di tengah jalan) sebagai program riset untuk mengetahui kondisi bawah permukaan paling tidak s/d kedalaman 1000 meter (3000-an kaki). Dibandingkan dengan rencana “program real action” Relief Well -3 yang 490 Miliar Rupiah alias 50 Juta Dollar dan juga rencana Double Cover Dam yang s/d 400 Miliar Rupiah, maka wajar saja kalau dari segi pendanaan program insersi bola-bola beton yang dilakukan oleh para pakar Fisika ITB tersebut tidak ada apa-apanya. Kalaulah kawan-kawan dari Fisika ITB dan BPLS dan Lapindo (yang buntut-buntutnya juga membiayai program-program tersebut) mau membuka diri berbagi dengan berbagai kalangan yang terkait dengan keahlian kebumian dan rekayasa untuk membahas hasil-hasil sementara “riset” bola-bola beton, maka saya yakin akan banyak yang dapat dikontribusikan untuk langkah-langkah selanjutnya penanggulan semburan tersebut.

 

Double Cover Dam

 

Dalam pesannya ke BPLS Presiden SBY menyatakan pentingnya Tim Jepang dan BPLS mengkonsultasikan metode double cover dam tersebut ke para ahli geologi. Repotnya, dalam berita media disebutkan bahwa mereka diberi kesempatan untuk konsultasi hanya dalam 2 hari ini sebelum mem-finalkan disain operasional lewat presentasi ke Tim Pengarah BPLS Senin 14 Mei. Tentunya kita semua juga tahu bahwa pada Sabtu-Minggu seperti ini akan sangat sulit meminta kerelaan para professional volunteer untuk bersama-sama berkumpul membahas aspek geologi dari metode double cover dam tersebut. Tetapi kita juga tahu bahwa ada otoritas geologi di Indonesia, yaitu Badan Geologi ESDM (BG-ESDM) yang mustinya punya legacy untuk membahas aspek geologi-nya. Dan karena mereka adalah bagian dari birokrasi pemerintahan, maka mudah-mudahan dalam 2 hari ini pemberian konsultasi-nya kepada BPLS dan Tim Jepang bisa mereka lakukan, tentunya dengan ijin lembur khusus kerja diluar jam normal kerja, demi kepentingan besar penanggulangan semburan lumpur Sidoarjo. Untuk itu pulalah saya tuliskan artikel ini, dengan harapan dapat dibaca dan dijadikan masukan oleh kawan-kawan di BG-ESDM dan tentunya di BPLS, selain juga untuk disebar-luaskan ke masyarakat sehingga mereka jadi lebih mengerti dengan apa yang terjadi di Porong Sidoarjo sana.

Dalam pekerjaan konstruksi bangunan sipil di permukaan tanah dikenal istilah geoteknik: soil test, sondir, atau soil penetration test, dan bahkan seismik dangkal untuk mengetahui kondisi struktur dangkal dan kekuatan “tanah” untuk kestabilan pondasi. Untuk membangun “dam’ (atau pipa) setinggi 40 meter paling tidak diperlukan informasi bawah permukaan sampai kedalaman minimum 40 meter. Apakah informasi teknis tentang hal ini sudah tersedia? Balitbang Dep-Kimpraswil mungkin memiliki beberapa data awal geoteknik daerah Porong, terutama ketika mereka membangun (dan harus memelihara) jalan tol Surabaya-Gempol melewati Porong. Atau bahkan BG-ESDM-pun memiliki data serupa, terutama berkaitan dengan proyek-proyek geologi teknik yang pernah mereka lakukan di daerah tersebut. Namun, perlu diperhatikan dengan sangat bahwa lokasi tempat konstruksi dam (atau “pipa”) yang direncanakan saat ini berada pada kondisi dinamis yang sangat berbeda dengan saat data untuk pembangunan jalan toll diambil (atau saat proyek-proyek geoteknik BG-ESDM dilakukan), yaitu:

1) tergenang lumpur,

2) terus menerus mengalami penurunan yang bukan dikarenakan faktor kompaksi belaka,

3) memiliki rekahan-rekahan / bidang-bidang lemah baru yang diakibatkan oleh penurunan maupun effek heaving dari tubuh bendung lumpur selama 1 tahun terakhir ini, dan

4) kemungkinan mempunyai conduit terhubung dengan sumber lumpur, air, ataupun gas di bawah permukaan akibat dari proses deteriorasi lapisan-lapisan dangkal (kwarter) selama bencana setahun ini.

 

Oleh karena itu, maka sangat disarankan kepada otoritas BPLS untuk terlebih dulu melakukan riset geoteknik tapak sebelum memutuskan pembuatan disain double cover dam tersebut. Tentunya dalam kondisi seperti yang tertulis diatas tidak mungkin dilakukan pekerjaan geoteknik seperti umumnya dilakukan di tanah kering. Berbagai pendekatan dan modifikasi operasional riset harus dilakukan. Ground Penetrating Radar (GPR) sangat ideal dipakai untuk mendeteksi konfigurasi struktur perlapisan geologi dangkal s/d kedalaman 50 meter. Kalau perlu dalam akuisisi datanya digunakan perahu/hoover-craft yang dipayung-i bahan tahan panas (seperti bahan baju para volcanologist yang riset di atas leleran lava panas yang baru membeku).

 

Selain khawatir dengan ketidakpastian struktur dangkal, saya juga ingin membawa perhatian anda semua untuk terus menerus mengusahakan pencarian informasi tentang apa yang terjadi di kedalaman yang lebih dalam (150 – 3000 kaki, 3000-6000 kaki, dan ultimately 6000-9000 kaki) melalui survei-survei geosains yang menerus maupun berkala, sebelum secara benar-benar mengimplementasikan disain double cover dam di lapangan. Tentunya disain itu sendiri juga harus disesuaikan dengan kondisi bawah permukaan dangkal dari survei-survei yang sudah saya usulkan di atas. Pengabaian ketidakpastian bawah permukaan akan membawa bencana yang lebih besar lagi apabila dipaksakan untuk menanggulangi semburan hanya berdasarkan rekayasa permukaan.

 

Kalah cacak – menang cacak

 

Sejak Juli-Agustus 2006, ketika keterlambatan penanganan semburan mulai serius dan semburan makin membesar menjadi proses pembentukan mud-volcano, saya sudah pesimistis dan mengatakan bahwa ini semua tidak akan bisa ditanggulangi lagi dengan “existing technology available in the market”, lemparkan handuk, dan kita musti bersiap-siap dengan “worst-case scenario”. Skenario terburuk itu saat ini sudah kita jalani, lumpur tak kunjung berhenti menyembur, yang namanya TimNas sudah digantikan dengan Badan (BPLS) yang punya masa kerja jauh lebih panjang, bencana merembet mengimbas ke banyak aspek, tanah sudah mulai diganti-rugi/dibeli, dsb, dsb. Terus, untuk apa kita terus ngotot dengan usaha-usaha penangggulangan semburan langsung kalau kita yakin bahwa ini semua tidak akan bisa ditanggulangi dengan “existing technology”? Poin saya ketika mengusulkan pemberlakuan worst-case scenario dulu itu adalah ingin menciptakan prasyarat dasar safety/keselamatan dimana yang kita pentingkan terlebih dulu adalah jiwa dan penghidupan manusia melalui scenario tersebut. Ketika jiwa dan penghidupan manusia mulai pelan-pelan ada titik cerah untuk diselamatkan, ketika infra-struktur juga sudah mulai dipindahkan (meskipun ada yang telat, kemudian rusak, dan menimbulkan korban waktu pecah: yaitu pipa gas), daerah mulai dikosongkan, maka instink kita sebagai manusia survival harus kita implementasikan. Teknologi yang tersedia di pasaran memang mungkin belum pernah ada yang dapat mematikan gunung-lumpur, tetapi siapa tahu: teknologi yang sedang dan akan diciptakan anak bangsa Indonesia sendiri mampu untuk menanggulangi-nya. Siapa tahu? Lumpur Sidoardjo akan menjadi wahana laboratorium besar dimana konsep-konsep teknologi, rekayasa, dan geologi akan mendapatkan tempat implementasi, tentunya dengan syarat: jiwa, penghidupan, dan hal-hal dasar lainnya sudah bisa diselesaikan.

Posted by: riobm | June 2, 2007

Imam Al Ghazali

Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau Al-Ghazali Ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar Asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Beliau digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Beliau sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Beliau berjaya mengusai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengambara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengambaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama sepuluh tahun. Beliau telah mengunjungi tempat-tempat suci yang bertaburan di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Beliau terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi berliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Beliau sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan. Kemegahan, dan kepuran-puraan dan mencari sesuatu untuk mendapat keredhaan dari Allah SWT. Beliau mempunyai keahlian dalam pelbagai bidang ilmu terutamanya fiqih, usul fiqih, dan siyasah syariah. Oleh karena itu, beliau disebut sebagai seorang faqih.

Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Beliau telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.

Karya-karya Imam Al Ghazali

Teologi

  • Al-Munqidh min adh-Dhalal
  • Al-Iqtishad fi al-I`tiqad
  • Al-Risalah al-Qudsiyyah
  • Kitab al-Arba’in fi Ushul ad-Din
  • Mizan al-Amal
  • Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah

Tasawuf

  • Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang terkenal
  • Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan)
  • Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)

Filsafat

  • Maqasid al-Falasifah
  • Tahafut al-Falasifah, buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).

Fiqih

  • Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul

Logika

  • Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
  • al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
  • Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)

« Newer Posts

Categories