Akhirnya setelah urusan tiket dan booking hotel kelar, saya dan teman-teman (4 of us) bersiap untuk first trip to US. Sebelumnya saya sedikit khawatir mengenai proses imigrasi yang akan saya hadapi disana. Hasil googling di internet katanya setelah proses imigrasi normal bagi kita yang berasal dari negara2 tertentu termasuk Indonesia akan ada proses imigrasi lanjutan berupa wawancara (katanya sih lebih seperti interograsi) mengenai tujuan kita kesana. Memang US ini bawaannya curiga saja.. US sendiri setelah peristiwa 9/11 sedikit banyak memperketat akses masuk bagi warga negara lain yang akan berkunjung kesana. Salah satu badan yang kemudian banyak berperan adalah TSA (Transportation Security Administration) dan Homeland Security. Peranan TSA bagi traveller nyata adanya, yakni lewat otorisasi mereka untuk memeriksa dan membuka koper-koper yang mereka curigai. Makanya kemudian timbul gembok TSA, jadi mereka tidak harus membuka dengan merusak gembok koper melainkan cukup membukanya dan melakukan pemeriksaan sehingga tidak ada gembok yang rusak. Kabarnya jika koper kita betul dibuka kita akan mendapat selembar kertas yang menginformasikan TSA was here (selamat koper anda sudah dibuka oleh TSA). He2.
Saya berangkat dengan maskapai Emirates dengan rute Jakarta-Dubai selama 5 jam, transit di Dubai selama 1 jam kemudian lanjut Dubai-Houston selama 15.5 jam. Wah hampir seharian duduk di pesawat, sudah kebayang rasanya pantat saya bakal panas. Pada tepat jam 00.40 dini hari saya kemudian boarding dengan EK-359 Boeing 777-300 tujuan Dubai. Pesawat Emirates ini bagi saya merupakan suatu kemewahan walaupun hanya duduk di kelas ekonomi. Maklum orang kampung.. Di dalam kelas ekonomi terdapat 3 lajur yang masing-masing terdiri dari 3 bangku kiri – 4 bangku tengah - 3 bangku kanan. Sepintas mirip garuda dengan adanya touch screen dan remote cable di depan kita namun dengan adanya fasilitas ICE (information, communication dan entertainment) yang lengkap membuat garuda kalah kelas. Film dan lagu yang tersedia dalam fitur E lengkap dari yang lawas hingga terbaru. Sepertinya memang dirancang untuk memanjakan penumpang penerbangan jauh agar tidak bosan. Lewat fitur I terdapat kamera yang bisa melihat posisi depan, samping dan bawah pesawat. Sungguh pesawat yang canggih.
Setelah 5 jam akhirnya kami sampai juga di Dubai International Airport, dengan kode DXB. Sungguh bandara yang besar dan rapi. Tidak terdengar riuh rendah suara penumpang seperti di Cengkareng. Bandara yang maju namun tetap dengan identitas muslim-nya. Musholla dan fasilitas wudhunya betul-betul terjaga. Lain waktu jika transit agak lama saya akan jelajahi bandara ini.
Kemudian pada jam 09.05 pagi penerbangan dilanjutkan dengan EK-211 tujuan Houston. Selama 15.5 jam dalam pesawat tentunya tidak banyak yang bisa dikerjakan. Yah paling nonton film, dengerin lagu, utak-atik ICE, apa lagi. Kalo saya pribadi i’m preparing my 1st jet lag experience dengan memperbanyak tidur karena katanya akibat jetlag itu jadwal tidur kita bakal kacau. Sepertinya tidur bakal menjadi hal yang sulit. 30 menit sebelum mendarat kami diberikan form CBP (US Custom & Border Protection) yang isinya standar-lah custom declare dan arrival – departure form.. Setelah 15.5 jam perjalanan ahirnya sampai juga di George Bush International Aiport Houston, dengan kode IAH. Betul langsung kaget dengan situasinya. Dalam waktu indonesia jika kita berangkat jam 09.05 pagi plus 15.5 jam perjalanan maka diperkirakan kita akan sampai di Houston malam atau dini hari. Tetapi kaget juga ternyata saat sampai jam 16.30 sore hari. Masih siang. Mulai deh mata dikucek-kucek. Ternyata disini 12 jam lebih lambat dari jakarta.. Wow jadi inikah bumi belahan barat yang berbeda siang dan malam dengan kita.
Urus punya urus mengenai imigrasi ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Saya melaluinya tanpa masalah. Teman saya terganjal sedikit masalah karena membawa makanan tradisional yang dia declare di custom form jadi kopernya harus melalui screening ulang. Terlepas dari itu kami semua bisa melalui imigrasi dengan baik tanpa masalah at all. Form arrival saya diambil kemudian saya mendapat potongan lembaran form departure yang harus diserahkan ketika pulang ke jakarta nanti. Kemudian paspor dan lembar visa saya distempel bersebelahan. Selama proses stempel saya memang ditanya-tanya tujuan ke US namun dengan penjelasan yang baik saya tidak mendapat masalah. Sebaiknya dokumen penunjang seperti LOI dan bukti tiket PP dibawa jadi jika ditanya bisa segera menunjukkan. Setelah semua clear si bule bilang .. Well sir.. wellcome to the states. Woalah akhirnya.
Setelah adaptasi dengan bandara jos bus kami segera mencari taksi yang dapat mengantar kami ke penginapan. Dari mbah google memang disarankan kami menyewa mobil namun mengingat capek dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan stir kiri kami memilih naik taksi. Keluar bandara kami naik taksi minivan-nya si Okore Eric, imigran dari Nigeria yang sudah lama tinggal di Houston sejak pertukaran pelajarnya 30 tahun yang lalu. Dengan menunjukkan alamat hotel si Eric tanpa kesulitan mengantar kami. Untuk 20 menit perjalanan dengan taksi argo tersebut guess what kami kena ampir $100. Ya ampun ampir 1 juta. Mulai kerasa kapitalisme di US. Finally kami sampai di penginapan di daerah Stafford, Sugarland, Houston, Texas. Beristirahat beberapa hari sambil menyesuaikan jam tidur dan bersiap untuk training.
Hal pertama yang kami liat setiba di Sugarland adalah tidak adanya pejalan kaki, semua naik mobil atau motor (bukan bebek ya tapi Harley Davidson). Dan boil-boil yang beredar di jalanan ngebutnya minta ampun kayak diburu-buru gitu walau ada rambu speed limit tertentu misal 60 mph. Dan tentu saja masalah klasik sebagai orang asia dan muslim, susahnya cari nasi dan makanan halal. Praktis cuma bisa makan telur, kentang, roti dan buah saja. Lemes deh.. Selama 1 minggu pertama disini jadwal tidur masih kacau. Jam 12-3 sore mata ngantuk buanget bawaannya pengen tidur.. Jetlag effect.
But anyway.. Welcome to the USA.





























