Posted by: riobm | June 9, 2007

Sulitnya Metode Counter Weight

Copied from rovicky.wordpress.com

ambles.jpgSudah kita ketahui bersama bahwa tinggi tangul LUSI (Lumpur Sidoarjo) yang saat ini sudah mencapai 21 meter. Tanggul ini-pun sudah tidak dapat ditinggikan lagi. Bukan karena tidak mampu atau tidak ada biaya tetapi daya dukung tanah sudah tidak memenuhi syarat lagi.

Beban bukan ambles

Setiap kita menjejakkan kaki ditanah maka akan ada tekanan kebawah. Nah tekanan ini akan ditahan oleh permukaan. Kalau permukaannya tidak tahan maka akan menyebabkan ada jejak telapak kaki. Nah itulah sebabnya mengapa kaki ayam kalau berjalan diatas tanah lunak akan lebih dalam masuk kedalam ketimbang kaki itik atau bebek.

Nah sekarang tengok disebelah ini bagaimana bentuk kaki ayam yang kurus yang menjadikannya sulit berjalan diatas tanah lunak. Sedangkan disebelah kanannya kaki bebek yang menyebabkan bebek lebih mudah berjalan diatas tanah berair. Dan tentusaja kaki bebek ini juga dapat dipakai berenang.

diffsubsidence

Demikian juga gejala yang kita lihat pada bendung atau tanggul sementara yang ada di Porong. Tinggi tanggul yang setinggi 21 meter itu sudah merupakan ketinggian maksimum dari tanggul sehingga tidak terjadi amblesan akibat bebannya sendiri. Overtopping atau luberan yang terjadi saat ini sudah sangat kompleks. Tidak hanya akibat penurunan tanah karena amblesan dari bawah. Namun juga akibat beban dasar tanggul yang sudah mencapai titik maksimumnya.

tanggul_1.jpgKalau saja tanggul kita kecilkan penampangnya maka amblesannya akan semakin besar. Hal ini mirip dengan kaki ayam yang mudah masuk kedalam tanah yang dangkal. Itu seandainya kita ubah dengan konstruksi beton, maka diperlukan sebuah tapak kaki yang lebih besar lagi. Apalagi kalau akan membuat tanggul setinggi 40 meter. Tambahan lagi kalau tanggul itu dibuat dari besi, atau pipa besi seperti yang diusulkan orang Jepang itu.

Potensi masalah konstruksi bendungan besi

tanggul2.jpgTentu kita tahu berapa berat jenis beton, coba dibandingkan dengan berat jenis tanah, dan berat jenis besi. Semestinya sudah bisa dihitung berapa lebar “telapak ceker bebek” yang diperlukan untuk menyangga besi pipa setebal yang diusulkan itu. Semakin tebal tentunya lebar kaki bebeknya juga akan sekamin lebar kan ? Nah inilah yang mungkin akan menjadi potensi masalah ketika besi atau pipa baja raksasa akan dibanggun sebagai tanggul dengan tinggi 40 meter mengelilingi semburan.

Nah kalau menginginkan detilnya tentusaja seperti yang disarankan oleh Pak ADB untuk mencoba teknik GPR (Ground Penetrating Radar) untuk melihat konstruksi bawah permukaan hingga50 meter. Atau dapat juga dilakukan soil boring hingga 50 meter untuk melihat daya dukung tanah sebelum dibuat bangunan diatasnya. Mungkin sekali Kimpraswil sudah memiliki data untuk lokasi sekitar semburan ini ketika membuat Almarhum Jalan Tol Porong.Jadi mestinya timnas eh BPLS sudah bisa membedakan mana penurunan yang terjadi akibat ambles dan mana yang akibat beban kan ? Anda juga tahu kan ?

Tambahan: gambaran gaya-gaya pada tiang pancang

pancang.jpgTiang pancang itu berbeda dengan bantalan (base).

Dalam bantalan seperti yang terdapat pada gambar diatas terlihat adanya Q (merah) yang merupakan beban dari berat tiangpancang. qb adalh gaya tolak dari bawah yang menahan, besarnya tergantung penampang tentusaja.

Lah dalam tiang pancang itu ada Ts (biru) yang merupakan gaya gesek antara tanah dengan tiang pancang. Gaya berwarna biru inilah yang dipakai sebagai penahan.

Sehingga didalam tiangpancang ini bukan hanya luas tiang penampang saja yang dipakai sebagai pendukung. Tetapi justru permukaan dinding yang bergesekan dengan tanah inilah yang menjadi gaya pendukung beban diatasnya.

Posted by: riobm | June 8, 2007

Demi Jiwa & Penyempurnaanya

Bismillahhirrahmanirrahim

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
Dan bulan apabila mengiringinya,
Dan siang apabila menampakkannya,
Dan malam apabila menutupinya,
Dan langit serta pembinaannya,
Dan bumi serta penghamparannya,
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya

(Al Qur’an Surah As-Syams, Surah Ke 91, Ayat 1-15)

Posted by: riobm | June 8, 2007

Freemasonry

Lambang Freemasonry atau Vrijmetselarij.

Freemasonry (bahasa Inggris) atau Vrijmetselarij (bahasa Belanda) adalah sebuah organisasi persaudaraan internasional. Freemasonry pada zaman modern dimulai dengan berdirinya Grand Lodge di London, Inggris pada tahun 1717. Sebagian peneliti Barat berkeyakinan bahwa Freemasonry sebenarnya sudah didirikan di Skotlandia pada abad ke-14, saat Ksatria Templar ditumpas oleh Raja Perancis Philipe le Bel dan Paus Clement V.

Di Skotlandia, Templar ini menyusup ke dalam Serikat Tukang Batu (Mason) dan menguasai gilda-gilda serikat pekerjanya (Loji). Mereka kemudian memproklamirkan diri sebagai Freemasonry, sebuah istilah yang sebenarnya nama lain dari perkumpulan Kabbalah Yahudi-Talmudian.

Dari Eropa, Freemasonry yang terbagi dalam dua kelompok besar (Scottish Rite dan York Rite) menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Hindia Belanda.

Maskapai perdagangan Hindia Belanda, VOC, merupakan maskapai perdagangan terbesar dunia kala itu dan dimiliki oleh Freemasonry. Nona Blavatsky dan Colonel Olcott tercatat sebagai orang-orang yang membawa gerakan mistik ini ke Nusantara.

Organisasi ini mengklaim di seluruh dunia mereka memiliki anggota sebanyak 5 juta jiwa. Beberapa gereja eropa melarang umatnya menjadi anggota gerakan ini.

Freemasonry di Indonesia

Di Hindia-Belanda dahulu, rumah pertemuan kaum Vrijmetselarij, dalam bahasa Belanda Loge atau Loji dalam bahasa Indonesia seringkali disebut sebagai “rumah setan”. Sejak zaman presiden Soekarno, gerakan ini dilarang di Indonesia.

Loji-loji Freemasonry ternama di Nusantara tersebar di hampir semua wilayah di Indonesia seperti di Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jawa, Sulawesi, dan sebagainya.

Salah satu yang paling terkenal adalah Adhuc Stat alias Loji Bintang Timur yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat, yang kini dipakai sebagai Gedung Bappenas. Dulu, gedung ini dikenal masyarakat luas sebagai Gedung Setan, karena sering dipakai sebagai tempat pemanggilan arwah orang mati oleh para angota Mason.

DR. T. H. Stevens, seorang sejarawan Belanda, dalam bukunya berjudul “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962”, yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Sinar Harapan dalam jumlah yang sangat terbatas, banyak memaparkan tentang gerakan dan tokoh-tokoh freemasonry di Indonesia. Tokoh-tokoh Mason Indonesia menurut buku tersebut —yang dilengkapi foto-foto ekslusif sebagai buktinya— banyak menyangkut nama-nama terkenal seperti Sultan Hamengkubuwono VIII, R. A. S Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Paku Alam VIII, R. M AAA Tjokroadikoesoemo, DR Radjiman Wedyodiningrat, dan banyak pengurus organisasi Boedhi Oetomo. Loji-loji Freemasonry ternama di Nusantara tersebar di hampir semua wilayah di Indonesia seperti di Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jawa, Sulawesi, dan sebagainya.

Beberapa anggota terkenal

  • Enrico Fermi
  • Johann von Goethe
  • Louis Armstrong
  • Winston Churchill
  • Beberapa Presiden Amerika Serikat:
    • George Washington
    • Andrew Jackson
    • James Buchanan
    • Abraham Lincoln (dilantik secara anumerta oleh lodge yang telah ia ajukan, dan diingkari, keanggotaan saat mencalonkan diri untuk Senat AS)
    • Andrew Johnson
    • Theodore Roosevelt
    • Warren Harding
    • Franklin D. Roosevelt
    • Harry Truman
    • Lyndon Johnson
    • Gerald Ford
  • Beberapa Tokoh Indonesia:
    • Raden Saleh
    • Dr. Radjiman Wediodiningrat
Posted by: riobm | June 8, 2007

Scientology

Scientology adalah sekumpulan ajaran dan teknik terkait yang dikembangkan oleh pengarang Amerika, L. Ron Hubbard selama sekitar 30 tahun, dimulai pada 1952 sebagai suatu filosofi pertolongan diri-sendiri, perkembangan dari sistem pertolongan diri-sendirinya yang lebih awal, Dianetika. Ajaran ini mengklaim menawarkan suatu metodologi yang eksak (pasti) untuk menolong manusia mencapai kesadaran keberadaan rohaninya melintasi beberapa masa hidupnya dan, pada saat yang bersamaan, untuk menjadi lebih efektif di dunia fisik. Nama “Scientology” juga digunakan untuk merujuk kepada Gereja Scientology yang kontroversial, organisasi terbesar yang mempromosikan praktik Scientology. Gereja ini sendiri adalah bagian dari jaringan korporasi terkait yang mengklaim pemilikan dan wewenang tunggal untuk menyebarkan Dianetika dan Scientology.

Scientology menyatakan bahwa tujuannya adalah “merehabilitasi” thetan (kira-kira setara dengan jiwa) untuk memperoleh kembali keadaannya semula berupa “kebebasan total.” Para jurubicara gereja ini dan praktisinya memberikan kesaksian bahwa ajaran-ajaran Hubbard (yang disebut “Teknologi” atau “Tek” dalam terminoogi Scientology) telah menyelamatkan mereka dari begitu banyak masalah dan memampukan mereka untuk lebih menyadari potensi tertinggi mereka dalam bisnis maupun kehidupan pribadi mereka. Namun, para pengamat luar – termasuk wartawan, anggota parlemen, lembaga-lembaga pemerintahan nasional dari sejumlah negara – telah mencapai kesimpulan tentang Scientology yang sangat bertentangan dengan penggambaran diri Gereja ini. Di antaranya termasuk tuduhan-tuduhan bahwa Gereja ini adalah sebuah usaya komersial tiodak jujur, yang mengganggu para kritikusnya dan secara brutal mengeksploitir anggota-anggotanya.

Meskipun beberapa pakar dan banyak pemerintahan dunia menerima Scientology sebagai sebuah agama yang bonafid, Scientology juga telah digambarkan sebagai pseudo agama, sebuah ajaran sesat atau sebuah perusahaan transnasional.

Posted by: riobm | June 8, 2007

LUSI, Kelalaian Pemboran & Penanganan

Rudi Rubiandini R.S.,
Dosen ITB dan Mantan Ketua Tim Investigasi Independen Lumpur Lapindo

Kejadian Blowout (keluarnya fluida dari dalam bumi ke permukaan tidak terkendali), yang merupakan akibat langsung dari kegiatan pemboran di wilayah Sukowati dan Sidoardjo telah sangat mengagetkan masyarakat, menakutkan, dan tidak jarang memberi trauma seperti halnya kejadian gempa bumi maupun tsunami. Tentu hal ini dapat dilihat sebagai imbal-balik dari kegiatan manusia yang “bermain-main”, dan berusaha mengeksploitasi alam semesta.

Kejadian Blowout selama ini sering terjadi pada industri migas, dan jarang sekali mengakibatkan efek langsung kepada masyarakat, justru keselamatan pekerja yang memang dekat dengan sumber bencana sangat dikhawatirkan. Sehingga peraturan keselamatan kerja bidang migas sangat ketat, dapat kita lihat pada kasus Sukowati maupaun Sidoardjo tidak ada pekerja yang cedera, begitu pula dalam sejarah Blowout Indonesia maupun dunia hanya sedikit mencederai pekerja maupun manusia pada umumnya. Namun dalam kasus Sidoarjo telah mengakikatkan dampak terutama terhadap masyarakat yang sangat signifikan, walaupun pelan tapi pasti, hal ini diperparah dengan sangat lambatnya penanggulangan, baik karena keteledoran maupun karena faktor-faktor non-teknis yang disebabkan ketidak-tegasan dalam perintah serta tugas yang diberikan pada pelaksana di lapangan.

Akibat dari penanganan yang lambat dan lalai seperti ini mengakibatkan efeknya sangat dahsyat dan berlangsung sangat lama, dan akan menjadi sejarah baru dalam dunia migas atau mungkin satu-satunya di dunia, dimana panganan Blowout dilakukan lebih dari setahun.

Dalam statistik dunia sudah ratusan bahkan ribuan kali terjadi blowout, dan di Indonesia menurut catatan penulis dalam 35 tahun terakhir setidaknya telah terjadi blowout sebanyak 17 kali, sehingga hampir setiap 2-3 tahun terjadi kecelakaan Blowout pada saat pengeboran sumur. Bila dibandingkan dengan kegiatan pemboran 300-350 sumur setiap tahun, maka berarti hampir setiap 1000 sumur pemboran terjadi 1 kali kecelakaan blowout.

Disisi lain sejarah menunjukan bahwa seluruh kecelakaan blowout selalu dapat ditanggulangi, ada yang dengan cepat dan ada pula yang bisa berbulan-bulan. Namun kecelakaan bukanlah hanya sebuah angka, tapi mengapa selalu berulang, Apakah kejadian ini sebagai imbalan dari alam kepada kita.

Antara Kecelakaan dan keteledoran

Indikasi awal sebuah Blowout adalah terjadinya kick yaitu masuknya fluida (air, minyak, atau gas) kedalam lubang sumur yang sedang dibor, kemudian kick yang tidak bisa dikontrol akan mengakibatkan fluida mengalir sampai ke permukaan yang dikenal dengan Blowout.

Apabila kick terdeteksi, setiap ahli pemboran sudah dibekali dengan keterampilan Pressure Control untuk menghentikannya. Sehingga seharusnya setiap ada indikasi kick selalu dapat ditanggulangi. Namun munculnya kick seringkali datang dalam waktu yang sangat cepat hanya beberapa menit saja, sehingga bencana Blowout yang sangat tidak diinginkan oleh setiap ahli pemboran bisa terjadi sewaktu-waktu.

Faktor alamiah saat pemboran dilakukan justru sangat dominan dalam kasus kick ini, karena pada saat perencanaan pemboran dimulai para pekerja hanya dibekali dengan prediksi yang dibuat ahli geologi dan geofisik tentang lapisan batuan yang akan ditembus, baik kualitas maupun perkiraan tekanannya, namun alam di bawah tanah dengan posisi ribuan meter tidak ada yang bisa memastikan, oleh karena itu kecelakaan kick dan blowout ini tetap saja terjadi dan mungkin tetap akan terjadi pada pemboran-pemboran sumur migas berikutnya.

Namun Kejadian Blowout dapat dihindari apabila selama pemboran dilakukan dengan penuh kehati-hatian dengan selalu melaksanakan pekerjaan sesuai SOP (Standard Operating Procedure), serta sebelumnya dilengkapi dengan informasi yang baik dari team Geologi dan geofisik.

Penyebab Kick atau blowout

Selama ini Blowout yang dikenal ada tua jenis, yaitu Surface Blowout (SBO) dan Underground Blowout (UGBO), dimana SBO bila fluida keluar melalui lubang pemboran, sedangkan UGBO bila keluar bukan dari lubang pemboran. Penanggulangan untuk SBO jauh lebih mudah dan cepat, tidak jarang dapat dilakukan hanya dalam beberapa jam, namun UGBO akan memerlukan waktu yang cukup lama, bisa mencapai berbulan-bulan.

Kasus di Sumur Sikowati-5 akhir bulan Juni 2006 di Bojonegoro adalah masih dalam tahap Kick, bukan blowout, karena gas yang naik masih dapat terdeteksi sehingga mampu ditangani dan dikeluarkan, kemudian diinjeksikan lumpur yang sesuai dan pemboran dapat diteruskan sesuai rencana semula. Namun bila kick ini tidak ditangani dengan tuntas, tidak dikeluarkan, bisa saja malah terjadi SBO ataupun UGBO yang mengerikan melebihi kasus Sidoardjo dapat terjadi, berutunglah tim Petrochina dengan segera menyelesaikan kick ini dan rnengeluarkan gas dalam annulus lubang sumur dengan terkendali. Adapun gas yang keluar harus dibakar sehingga tidak membahayakan lingkunan dan penduduk, justru akan sangat berbahaya bila dibiarkan lepas ke udara dan tidak dibakar, atau sebaliknya hanya menunggu dan menutup sumur tanpa melakukan apa-apa, justru akan memicu terjadinya SBO ataupun UGBO.

Kasus di Sumur Banjarpanji-1 Sidoardjo pada saat Kick pertama kali terjadi telah ditanggulangi pula oleh team Lapindo, namun karena Pipa pemboran hanya sampai kedalaman 4241 feet (setengah lubang dengan kedalaman 9297 feet) maka masih ada potensi kick lanjutan (kedua, ketiga, dst) dapat terjadi sebelum seluruh lubang terisi dengan fluida lumpur yang memiliki densitas yang melebihi EMW (Equivalent Mud Weight, Tekanan batuan yang dinyatakan dalam satuan berat Lumpur).

Dari Laporan pemboran harian terbaca bahwa memang terjadi penganan yang mengakibatkan tekanan di dalam lubang melebihi tekanan rekah batuan, hal ini bisa terjadi karena sejak kedalaman 3580 feet sampai 9297 feet (5717 feet atau 1750 meter) lubang dalam keadaan terbuka tanpa pipa pelindung yang disebut Casing, sehingga terjadi UGBO. Kekhasan sumur BJP-l adalah, bukan gas atau minyak yang keluar, akan tetapi air asin-panas yang kemudian diperjalanan ke permukaan membawa tanah liat (Shale) sehingga muncul di permukaan sebagai lumpur-panas, maka diperlukan penanggulangan yang khusus.

Kedua kejadian di Jawa Timur ini menyadarkan kita, bahwa teknologi pemboran migas adalah termasuk teknologi yang beresiko kecelakaan sangat tinggi. Kick dan blowout adalah salah satu kecelakaan yang sering dihadapi dalam industri migas diantara puluhan jenis kecelakaan lainnya yang sering muncul.

Resiko Pemboran

Resiko pemboran dapat mengakibatkan kerugian finansial sampai ratusan juta dollar, kerugian lingkungan yang bisa tercemar, dan resiko bisa merenggut nyawa manusia terus berlanjut, namun Pemboran tidak harus dilarang di tempat sulit sekalipun, seperti di tempat yang penuh penduduk, di laut yang sangat dalam, namun pemboran di tempat sulit harus dilakukan dengan standar keselamatan dan keamanan yang tinggi. Hal ini mestinya tertuang dalam suatu dokumen yang mengikat antara pemerintah sebagai wakil masyarakat dengan perusahaan pelaksana, misalnya dalam RPL & RKL atau dalam dokumen tersendiri seperti Contingency Plan atau Emergency Respon Plan (Rencana Tanggap Darurat).

Namun menghindari resiko harus terus diusahakan, mulai dari peralatan yang baik, sampai pekerja yang memiliki keterampilan dan bersertifikat. Sehingga selama para pekerja melakukannya sesuai kaidah keteknikan yang benar. Dalam kasus BJP-1 Faktor terpenting yang melemahkan adalah belum terpasangnya pipa pelindung (casing) yang cukup panjang, dimana terdapat lapisan Shale sepanjang 2520 feet (750 meter) yang terbuka sehingga mengakibatkan pipa pemboran terjepit dan telah menghambat pengangan Kick dengan benar, serta lubang menjadi lebih mudah terpecahkan oleh tekanan di dalam lubang pemboran.

Siapa yang Bertanggung Jawab

Kejadian di BJP-l Sidoardjo jelas merupakan kecelakaan pada proses pemboran, sehingga penanggulangannya wajib dilaksanakan oleh operator pelaksana, sesuai dengan kaidah dalam kontrak kerjasama Migas, yaitu pihak pemerintah menyerahkan konsesi untuk dikelola dengan biaya dan resiko ada pada kontraktor, namun pemerintah akan membayar segala pengeluaran apabila lapangan sudah berproduksi di kemudian hari, namun pengeluaran yang dimaksud adalah pengeluaran dalam rangka memproduksikan migas, bukan kecelakaan akibat keteledoran, apalagi karena selama pelaksanaan sudah diluar dari rencana dan ketentuan yang ada.

Oleh karena itu biaya mematikan semburan bisa saja nantinya dibayar pemerintah dengan skema Cost Recovery (dibayar bila sudah berproduksi), namun beban kecelakaan yang mengakibatkan masyarakat dirugikan harus menjadi tanggung-jawab Lapindo, apalagi jual-beli tanah seluas 600 Ha tentu yang membayar harus Lapindo karena sertifikatnya akan menjadi kepemilikan Lapindo (ini sebagai jula-beli tanah biasa), begitu pula kerugian pengusaha yang terendam, dan reklamasi lingkungan sudah jelas harus ditanggung oleh Lapindo secara bertanggung jawab.

Sekelompok masyarakat ada yang berkeinginan untuk menyatakan kejadian di BJP-1 sebagai “Bencana Alam”, sehingga semua pengeluaran penanggulangan menjadi tanggung-jawab pemerintah, akan sangat menoreh keadilan dan menyakiti hati nurani, semoga kita bersabar atas cobaan yang sedang Tuhan hadapkan di depan kita…Amin.

Posted by: riobm | June 8, 2007

Menahan Lumpur Dengan Bola Beton

Copied from rovicky.wordpress.com

Main gelembung emang asyik banget. Wektu kecil suka sekali main umpluk atau gelembung ini. Terutama pakai sabun dan getah jarak.

Sudah baca tentang sumber-sumber tekanan Lumpur Lapindo (LuSi) sebelumnya kan ? Yok, kita coba gimana mengatasi yang disebabkan oleh gelembung-gelembung gas ini.

tekanan_lusi.jpg

Salah satu yg paling diperlukan dalam mengamati gelembung gas ini adalah asal muasalnya. Ada dua kemungkinan sumber gas ini yaitu, dari gas yang terpreangkap dalam pori-pori. Dalam perminyakan disebut gas trap (gas yang terperangkap). Selain itu ada pula gas yang terlarut dalam cairan disebut dissolved gas.

Kemungkinan pertama dengan adanya gas trap sebagai sumber gas biasanya muncul ketika awal-awal kejadian blowout. Tekanan gas yang sangat tinggi (overpressure gas) selalu menjadi kambing hitam pertama ketika mengalami tendangan pada sebuah sumur. Namun setelah melihat bahwa semburan ini tak henti-henti dalam waktu setahun lebih dengan dbit yang sangat luar biasa ini maka kemungkinan adanya gas yang terperangkap sebagai sumber tekanan menjadi diragukan. Kalau saja gas itu memiliki tekanan tinggi tentunya sudah habis dalam beebrapa bulan saja.

Dahulu air yang diperkirakan terperangkap dalam pori-pori Batugamping Formasi Kujung akan habis adalam waktu sekian bulan saja (3-5 bulan). Namun justru kali ini air yang keluar sudah jauh lebih banyak dari tangki dibawah sana yang diperkirakan ada pada Batugamping Formasi Kujung. Demikian juga gas yang terperangkap, tentunya sudah akan “nggemboss” dan turun tekanannya dalam waktu yang cukup cepat. Kenyataannya semburan juga tidak berhenti hingga sekarang. Dengan demikian hipotesa gas trap (gas terpreangkap) maupun trap water (air yang terperangkap) menjadi lemah saat ini.

Oleh sebab itu sangat mungkin gelembung-gelembung gas yang keluar dari Lusi merupakan gas yang terlarut dalam air ataupun fase gas dari air (uap air /steam) akibat penanasan dari dalam bumi.

Kalau saja gelembung gas itu merupakan fase gas dari air akibat pemanasan maka akan mengikuti grafik fase (P=T) dari air seperti disebelah ini.

Grafik disebelah ini grafik fase dari air. Sebelah kiri sumbu tekanan dalam atmosfer dan skalanya berupa skala logaritmik. Sedangkan kekanan merupakan sumbu temperature. Yang dikiri dingin yang dikanan panas. Coba lihat titik merah yang merupakan titik didih air yaitu 100 °C pada tekanan 1 atmosfer. Jadi pada tekanan rendah maka air akan mendidih dibawah 100 ºC. Garis batas uap dan cair itu menunjukkan titik didih dari air. Diman fase air berubah dari cair menjadi uap.

Perkiraan suhu bawah permukaanLumpur panas ini mengalir dari bawah keatas. Semakin keatas maka temperatur serta tekanannya akan berkurang. Turunnya suhu bisa dilihat disini saat kita mengamati awal kelahiran Lusi. Jadi penurunan suhu bisa diperkitakan dari gambar itu kan ? Dan kita juga bisa melihat tentunya ada titik kedalaman tertentu dimana awal pemunculan gelembung gas ini (bubble point). Dan tentusaja bisa dihitung atau diperkirakan.

Karena keluarnya gas-gas inilah maka kekuatan daya dorong fluida keatas juga cukup besar. Dan seandainya gelembung-gelembung ii terkumpul di rongga dibawah tentunya akan sangat berbahaya, karena menyimpan tenaga dorong keatas karena faktor bouyancy atau daya apung yang cukup besar.

Ingin bukti ?

Coba masukkan balon kedalam air. Tentu akan sangat mudah balon ini akan pingin mengambang hanya karena tekanan udara yang ingin naik keatas. Bahkan sangat mungkin balon itu akan meletus (DOR !) ketika dimasukkan kedalam air bukan ? Kalau ingin tahu besarnya gaya keatas ya mesti belajar lagi hukum Archimides. Ndak usah pakai rumus2 yang susah-susah. Kalau mau nyumbat serius ya baru pakai rumus yang aneh-aneh. Tapi buat kita mendongeng begini pakai rumus yang mudah saja, kan ?

Sekarang kita tahu bahwa ada gaya keatas disebabkan oleh gelembung gas, dan kita tahu adanya grafik hubungan antara tekanan suhu dan pembentukan gelembung (bubble point) dari grafik diatas. Tentunya kalau tekanan itu turun secara cepat maka pembentukan gelombang juga akan semakin cepat. kalau saja kita mampu menghambat atau memperlambat timbulnya gelembung, maka kita telah mengurangi daya dorong keatas.

Bagaimana caranya ?

Salah satu yang sudah dilakukan oleh tim BOLTON adalah dengan menahan jalannya aliran dengan Bola-Bola Beton, sehingga tekanan dibawah masih cukup besar sambil tetap mengalir tetapi menahan pemebantukan gelembung. Kalau bubble point bisa ditunda moga-moga saja debit akan berkurang.

Jadi barangkali beginilah cara kerja BOLTON itu.

Bola-bola ini bentuknya sangat seragam sehingga segalanya bisa menjadi sangat terukur dan diharapkan terkendali. Sekali lagi terukur dan diharapkan terkendali. Namun memang tidak mustahil bahwa dengan batukalipun bisa saja dilakukan asalkan semuanya terukur. Bolton ini bulat-bulat dan licin, sehingga jalannya lumpur hanya dihambat tetapi tidak tersumbat. Seperti yang ditulis dahulu dijelaskan bahwa BOLTON akan menghambat jalannya lumpur.Batukali bentuknya relatif lebih runcing-runcing sehingga pori-porinya akan lebih kecil, dibandingkan dengan bola-bola beton yang bulat-bulat dan licin. Juga karena bentuk batukali itu tidak teratur maka tentunya akan sulit melakukan penghitungan serta simulasi apa yang mungkin terjadi.

Menggunakan BOLTON yang sudah seragam dan terukur-pun belum tentu akan ngefek seperti yang dipikirkan. Termasuk berhentinya 30 menit itu jelas bukan diketahui sebelum dimasukkan bolton, kan ? Hal ini disebabkan karena masih banyak faktor-faktor lain yang harus diperhitungkan. Faktor2 yg belum diketahui ini misalnya bentuk lubang, suhu atau tempertur serta tekanan dibawah sana, sumber air dan material2 lainnya. Juga tidak kalah penting struktur geologi bawah permukaan yang perlu diketahui dengan detil. Dengan demikian potential failure atau kemungkinan kegagalannya jelas masih ada, kan ? Dan sudah dijelaskan disini juga sebelumnya looh.

Batu-kali bisa menyusul.

Saya perkirakan kalau saja Bolton ini mampu mengurangi debit secara perlahan, maka sangat mungkin nantinya batu-kalipun akan aman untuk dimasukkan sebagai pengisi lubang. Sekali lagi kalau nantinya semburan ini sudah dapat “dikendalikan“. Banyak faktor-faktor bawah permukaan yang harus diukur sebelum melakukan tindakan.

Yang dijelaskan diatas harus diingat lagi hanyalah untuk menahan satu dari tiga kemungkinan sumber tekanan lumpur untuk naik keatas. Selain tekanan gas, masih ada dua sumber tekanan lain yang harus dilawan, yaitu tekanan hidrostatis dan tekanan lithostatis.

Posted by: riobm | June 6, 2007

Mungkinkah Relief Well Berhasil ?

Copied from rovicky.wordpress.com

Banyak sekali yg ragu-ragu apakah “relief well” ini masih dapat diandalkan sebagai cara menangani banjir lumpur panas di Sidoarjo ini. Nah saya uraikan beberapa kemungkinan penanganan dengan relief well ini. Apakah benar para ahli dari luar negeri sudah berpengalaman dengan semburan liar seperti yg terjadi di Porong ini ?

Tentunya kawan-kawan sudah mengerti bagaimana terjadinya BlowOut (BO) maupun Underground Blowout (UGBO).

Relief well merupakan metode mematikan sumur yang mengalami semburan liar. Secara mudahnya digambarkan seperti disamping itu.

Warna merah merupakan sumur yg mengalami BO dimisalkan sumur yg miring juga. Warna hijau ‘relief well’nya. Sumur hijau melakukan pengeboran miring tentunya jurubornya harus “titis”/jitu dalam mengarahkan lubang. Bayangin aja dalam jarak 500-1000 meter lokasinya harus mengarahkan ke lubang bor yang hanya 10 inci !. Tidak jarang pengeboran harus dilakukan beberapa kali sehingga dekat dengan lubang sumur yg mengalami BO. Dengan melakukan pengeboran disamping sumur yang BO ini kemudian dipompakan lumpur berat.

General UGBO UGBO yang paling sering terjadi adalah BO pada lokasi dekat “casing shoe”, lubang terbuka paling atas. Loh, kenapa paling atas lubang terbuka ? Di kedalaman ini seringkali dilakukan uji kekuatan batuan atau disebut LOT (leak of Test) juga ada yang disebut FIT (Formation Integrity Test). Test ini untuk melihat seberapa besar daya tahan batuan menahan tekanan. Titik paling atas ini memiliki daya tahan tekanan paling kecil. Tempat jebolnya bisa juga pada kedalaman dimana casing tidak tersemen dengan baik. Sehingga lubang menembus lewat sisi disamping casing seperti yang digambarkan dibawah ini.

UGBO yg terjadi di beberapa tempat seperti di Sumatra Utara beberapa tahun lalu seperti disebelah kiri ini. Ketika lumpur bor dipompa ternyata menyembur disekitar lokasi pengboran. Ketika pompa dimatikan ya tidak terjadi apa-apa. Artinya jebolnya batuan karena tekanan lumpur berat sitambah tekanan akibat dipompa. Salah satu caranya ya dipompakan semen kedalam lubang. dengan beratjenis semen yg besar maka akan kuat menahan tekanan dari bawah, sehingga semen mampu untuk menutup rekahan yg terbentuk. Dan kalau bisa pas semennya nutup.
Case 1

Kalau saja ditangani dengan cara memompakan semen seperti diatas ini tidak berhasil dan problemnya keterusan, maka akan sangat mungkin fluida bertekanan dibawahnya ikutan nendang keatas (kick).

Case 1 ini salah satu yang diduga terjadi di BPJ-1. Coba saja amati adanya “fish“, sisa rangkaian pengeboran yg terjepit didalam casing. Ini menunjukkan kemungkinan casingnya “collapse” dan menjepit rangkaian bor.

Sangat mungkin collapse terjadi akibat penyemenan yang tidak sempurna. Perlu dilihat detil operasi penyemenan dan log semen (CBL-Cement Bond Log) sebelum terjadinya peristiwa kick-UGBO ini.

Ada kemungkinan lain yaitu seperti yang terlihat pada Case 2 dibawah. Yaitu melewati zona lemah dibawah casing shoe diatasnya. Zona lemah ini bisa saja rekahan yg sudah ada sebelumnya, misalnya zona patahan yg terlihat di sekitar sumur BPJ-1 dan disekitar sumur Porong-1.

Case 2Seandainya saja Case 1 atau Case 2 ini yang terjadi di BPJ-1 maka penanganan dengan relief well dapat diharapkan akan berhasil. Itulah sebabnya usaha relief well tetap harus dilakukan. Dan saat ini sudah ada tiga tempat yang diharapkan dapat dipakai sebagi lokasi relief well.

Target yang dapat dipakai untuk mematikan semburan ini ada dibawahnya tentusaja. Tentunya dengan teknik drilling khusus inilah maka design drilling relief well dapat dibuat dengan baik. Tentusaja masih diperlukan bantuan-bantuan ahli geologi dan geofisika dalam menginterpretasi data-data bawah permukaan termasuk seismic serta data-data sumur disekitarnya. mendeteksi kemungkinan Case 1 atau Case 2 supaya targetnya relief well ini tepat sasaran.

Kendala yang mungkin dihadapi seandainya case 2 ini melewati zona rekahan/patahan adalah ukuran serta geometri dari rekahan ini bukan seperti pipa tetapi “bidang”. Tentusaja bidang ini menjadi agak sulit utk ditutup. Walaupun bukan berarti tidak mungkin. Hanya perlu pompa semen yg cukup besar. namun kalau saja masih berujung pada lubang sumur, ya tentusaja masih bisa diharapkan relief well ini akan berhasil, kan ? Berdoa donk !

Case 3Kasus yang paling pelik akan dihadapi seandainya terjadi kasus ke tiga ini. Case 3 sangat mungkin merupakan kelanjutan sebuah UGBO yang sangat parah dimana lubang sumur sudah bukan merupakan jalan keluarnya lumpur. Atau memang sejak awal tidak ada hubungan antara sumur dengan semburan lumpur ini. Tentunya anda masih ingat kemungkinan adanya gejala alam lain (gempa-liquefaction) dimana semburan ini tidak disebabkan oleh pengeboran.

Worse case scenario.

Seandainya digabungkan semua kemungkinan-kemungkinan lubang keluarnya case 1 – 2 – 3, dengan sumber lumpur seperti yg ditulis sebelumnya tentang sumber keluarnya lumpur dari mana ? maka kita menghadapi mission impossible. Hanya saja sebagai manusia, kita tetap harus berusaha dan tidak boleh berputus asa. Kemungkinan-kemungkinan kecil tetap menjadi harapan penyembuhan.

Lah wong ngebor untuk mendapatkan minyak ini juga rata-rata success chance serta succes ratio-nya juga dibawah 10% kok.

namun bukan berarti mengandalkan ke satu cara saja kan ? Menurutku, usaha membuang lumpur serta menyelamatkan penduduk merupakan tujuan terpenting disini. Manusia yg harus dilindungi termasuk yang tinggal jauuh di lain tempat, karena lokasinya kebetulan berada pada urat nadi ekonomi Jawa Timur. Pembuangan lumpur juga harus tepat looh.

Jadi kalau dilihat dari atas kemungkinan besar para ahli dari luar negeri yg didatangkan itu ahli yg berpengalaman “menyembuhkan” kasus 1 atau mungkin sedikit kasus 2. Sedangkan kasus lumpur Sidoarjo ini masih belum jelas yang mana. Kalau hanya kasus 1 tentunya ahli-ahli lokalpun akan sangat mungkin menyembuhkannya, tetapi kalau kasus 2 dimana melewati sebuah patahan ya tentunya menjadi komplikated dan sangat jarang terjadi, apalagi kasus 3.

Posted by: riobm | June 6, 2007

Amblesnya Drilling Rig

Copied from rovicky.wordpress.com

Mungkin ada yg bertanya-tanya bagaiman sebuah drilling rig amblas masuk kedalam bumi. Padahal sepertinya kaki-kaki drilling rig tsb sudah menapak kuat pada tiang pancang dsb. Berikut foto-foto yg saya peroleh dari milist Migas-Indonesia (trims Mas Budi). Sekalian saya berikan sedikit penjelasan grafis bagaimana hal ini bisa terjadi. Proses pengeboran diawali dengan mengebor bagian atas, “upacara” ini sering disebut dengan Spud atau Tajak. Pada saat tajak ini tentunya proses pengeboran masih sangat awal. Karena biasanya batuan paling atas itu seringkali tidak begitu keras, karena lapisan muda atau karena berupa batu yg sudah lapuk. Sehingga seringkali BOP belum dipasang. Dan casing atau selubung yang sudah dipasang-pun seringkali tidak disemen.

Dengan keterbatasan konstruksi sumur pada waktu awal ini tentusaja ada risiko-risiko yg harus ditanggung, misalnya gas-gas dangkal (shallow gas).

Berikut sebuah seri foto-foto tersebut. Tidak ada informasi lokasi pengeborannya tetapi kalau dilihat tanggalnya peristiwa ini terjadi bulan February 2006.

sinkingrig1.jpg

Foto 1. Tanggal 16 Februari 2006. Disini memperlihatkan bahwa anjungan yang sudah ambruk. Terlihat drillfloor (lantai pengeboran) yg relatif bersih, saya rasa tidak terjadi semburan lumpur keatas. Tidak ada lumpur yang menyembur seperti yang terjadi di Banjarpanji-1 Sidoarjo

sinkingrig2.jpg

Foto 2. tanggal 18 Februari 2006. Gambar ini menunjukkan kepala sumur (well head) yg masih utuh. Sepertinya memang tidak ada yg menyembur melalui lubang sumur itu sendiri. Mirip seperti di Sidoarjo dimana kepala sumurnya sendiri aman, namun terjadi semburan diluar lubang sumur.

sinkingrig3.jpg

Foto 3. Tanggal 19 Februari 2006. Drillfloor sudah tidak terlihat lagi, terlihat menaranya sudah ambruk dan sangat kotor. Diperkirakan terjadi semburan lumpur (air bercampur tanah).

sinkingrig4.jpg

sinkingrig5.jpg

Foto 4 dan 5. Hampir semua peralatan pengeboran amblas tenggelam kedalam tanah. Hanya terlihat kepala sumur yg sekarang sudah sangat kotor akibat semburan lumpur. Biasanya lokasi ini akan selalu ditutup karena membahayakan.

Mengapa “Drilling Rig”nya bisa ambles ?

ugbo.jpgugbo_collapse.jpgKarena adanya semburan lewat kiri kanan lubang sumur, biasanya melewati ruang annulus (ruang antara dinding sumur dengan casing). Seperti yg disebut diatas karena masih dangkal ruang ini tidak disemen dan menjadikan ruang paling rawan dan paling lemah menahan tekanan. seburan dari bawah tidak dapat masuk ke lubang sumur akibat adanya lumpur pemboran.

Semburan yg berlangsung terus menerus ini akan mempengaruhi daya dukung tanah (bearing capacity). Karena daya dukungnya berkurang ini yang menyebabkan rig amblas tenggelam. Tanah dibawah karena bercampur dengan gas dan juga air, maka kan berubah menjadi lumpur yang sangat lunak.

Peristiwa amblesnya rig ini hanya berlangsung dalam 3-5 hari saja. Sehingga cukup cepat terjadinya. Mungkin bisa dibayangkan bahwa Drilling Rig yg dipergunakan mengebor sumur Banjarpanji-1 tentunya juga ketakutan mengalami hal ini. Sehingga terburu-buru dipindahkan. Tentunya harus disadari bahwa kehilangan perangkat pemboran (drilling rig) sudah merupakan bagian dari risiko mencari minyak.

Apabila kejadiannya si Laut, kejadian bahaya akan tenggelamnya fasilitas pemboran termasuk Drill Ship. Drill Ship (anjungan pengeboran dalam sebuah kapal) juga sangat mungkin tenggelam akibat semburan liar ini. Drillship adalah anjungan pengeboran sumur dalam (Deepwater Drilling Rig). Seperti yg terlihat dibawah ini sebuah Rig yg tenggelam akibat semburan gas.

Akibat adanya gas yg tercampur dengan air maka densitas dari air akan jauh berkurang. Dan kalau anda masih ingat hukum Arhimedes maka daya angkat air ini menjadi hilang atau berkurang akibat campuran gas. Arhimedes bilang bahwa daya angkat akan berbanding lurus atau sebanding dengan masaa benda cair yg dipindahkan. Massa ini tergantung dari berat jenisnya. Nah kalau air dicampur gas tentunya berat jenisnya sangat kecil dan daya angkatnya juga kecil. Hilangnya daya angkat inilah yg menyebabkan sebuah Drillship juga dapat tenggelam akibat semburan liar.

drillship.jpg

drilshipsink1.jpg

drilshipsink.jpg

(sumber foto internet)

Posted by: riobm | June 6, 2007

Kelahiran LUSI

babylusi.pngKelahiran seorang bayi memang selalu ditunggu-tunggu, tetapi kelahiran prematur tentunya tidak pernah diinginkan seorang ibu hamil. Mereka selalu menginginkan kelahiran normal ketika usia kandungan sudah memenuhi. Walaupun saat ini tanggal kelahiran bisa dipilih-pilih mencari hari baik dengan bedah caesar tentunya. Menyaksikan detak-detak kelahiran SI Genit Lusi cukup menarik juga tentunya. Walaupun tidak ada yang mengharapkan kelahirannya, namun Lusi tetep saja suatu saat akan lahir kedunia.

Semburan lumpur atau dalam bahasa orang geologi disebut Mud Volcano atau Gunung Lumpur bukan hal baru tetapi khusus semburan Lusi merupakan fenomena unik yg mengandung kontroversi. Kali ini kita coba lihat dengan membuat sebuah hipotesa detak-detak kemunculan (kelahiran) semburan lumpur di Sidoarjo yang masih muda usia ini. Hipotesa ini disusun berdasarkan data, jurnal ilmiah, diskusi yang ada serta beberapa hasil seminar yang pernah dilakukan sebelumnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa proses kelahiran semburan sejenis ini sebenarnya pernah terjadi sebelum terjadinya semburan Mei 2006. Semburan Bledug Kuwu yang fenomenal, juga gunung lumpur di Madura, dan juga Gunung Anyar yang paling berdekatan dengan lokasi Lusi. Bahkan ada kemungkinan sudah pernah direkam sejak jaman Majapahit.

Data awal diambil dari presentasinya Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S. Staff pengajar di TeknikPerminyakan ITB, beliau juga sebagai Ketua Majelis Ahli IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia), serta ketua Tim Penyelidik semburan lumpur panas ini. Juga dari hasil diskusi di IAGI-net, beberapa publikasi ilmiah serta mencoba dengan olah pikir, tentunya.

Berikut perkembangan sumur BPJ-1 dari 27 Mei hingga 3 Juni 2006. Menurut Rudi Rubiandini, dalam sebuah Seminar IAGI 29 September 2006, Detak-detak kelahirannya dapat disarikan beberapa peristiwanya dibawah ini. Gambar setiap tahapan ini bisa dilihat digambar-gambar dibawah (klik saja gambar dibawah ini) : (maaf gambar tidak jelas, tumpang tindih karena dikopi sesuai aslinya pdf file)

27may07.png

28may07.png

29may07.png31may07.png

  1. 27 May 06 : Pemboran sampai kedalaman 9277 ft (Berlangsung aman tanpa masalah)
  2. TerjadiTotal Loss pada kedalaman 9297
  3. Pompa lumpur denganLCM
  4. TarikRangkaian @ 4241 ft,
  5. Terdeteksi adanya“Kick”
  6. TutupBOP
  7. Killing Well Kemudian Stuck Pipe
  8. PompaLumpur HiVisPill (40 bbl).
  9. Semburan pertama (gas dan air) keluar dipermukaan
  10. Pompa semen (150 bbl, 15.8 ppg)
  11. (maaf slide ga ada) (
  12. (maaf slide ga ada) (
  13. Semburan ketiga lalu Cement Plug 20 bbl, 15,8 ppg (2590’–2790’) dan 30 bbl (2100’–2250)
  14. Rig Down
  15. Well Abandonment (3 June 06)

Kesimpulan yang diambil oleh Dr Rudi Rubiandini menyatakan bahwa telah terjadi Underground Blow Out (UGBO) pernyataan yang sama dikemukakan oleh Mantan Ketua Umum IAGI Dr Andang Bachtiar. Kejadian awal ini merupakan kejadian yang sering terjadi dalam sebuah aktifitas pemboran. Menurut Dr Rudi Rubiandini pula di sebuah media Republika bahwa di Indonesia ini terjadi 2-3 kali blowout dalam proses pemboran migas. Artinya proses blow out itu bukan hanya pertama kali terjadi tetapi bisa dtangani dengan tepat.

casing-set.jpgYang perlu diketahui juga bahwa sumur BPJ-1 ini bukannya tidak memasang casing, tetapi pemasangan casing dilakukan tidak seperti yang diprogramkan. Konon menurut ceriteranya karena adanya kendala operasi yang mengharuskan pemasangan casing 16 ” terlalu awal. Lihat gambar disamping ini :

Pemasangan casing yang terlalu awal ini bukan karena perbedaan formasi. Terlihat bahwa lithologi yang diperkirakan tidak mengalami perbedaan mencolok untuk batuan-batuan diatas 2365 ft.

Namun dibagian bawah terlihat adanya perbedaan atau missed interpretasi yang pernah saya jelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Namun dibagian bawah memang sangat mungkin = telah terjadi missinterpretasi . Batuan yang berwarna biru (batugamping) tidak diperkirakan dijumpai namun dijumpai batuan kuning (batupasir), sehingga ada lubang tidak di-casing hingga kedalaman 9297 ft. Seperti yang dijelaskan Pak Rudi padawaktu mempresentasikan hal ini, bahwa tidak dipasangnya casing ini bukanlah penyebab utama, karena secara tehnis (engineering) masih diperbolehkan. (catatan saya : kalau tidak terjadi apa-apa).

Nah selanjutnya disusun sebuah hipotesa yang bersifat kronologi untuk menjelaskan detak-detak terjadinya semburan lumpur panas ini. Hipotesi ini belum tentu benar, harus diuji dengan pengukuran detil. Apakah benar air dari Gunung Penanggungan menjadi sumber air yang keluar selama ini.

Sebelum kejadian semburan Lusi (Pre Disaster)

Klik memperbesar gambar

Pada awalnya di lokasi Porong tidak terlihat aktifitas mudvolkano sehebat yang kita lihat saat ini. Namun gejala-gejala regional dengan unculnya mudvolkano memang jelas teramati baik disekitar Porong masa purba, maupun juga jaman majapahit.

Pada saat itu proses hydrologi terjadi seperti biasa, yaitu masuknya air kedalam tanah terjadi dan diperkirakan berasal dari Gunung Penanggungan masuk kebawah kedalam tanah hingga mendekati sebuah hotspot atau sumber panas. Proses ini sangat diduga membentuk jebakan uap panas atau hydrothermal ini terjadi tentunya sudah sejak lama. Proses hydrothermal ini mungkin tidak ada di bagian utara Jawa Timur ini, karena proses hydrothermal ini hanya terjadi berdekatan dengan gunung api.

Selain terjadi proses pemanasan air tanah ini, diatas jebakan hydrothermal ini terdapat batugamping Formasi Kujung yang memiliki tekanan cukup tinggi. Pengukuran di sumur Porong-1 (7 Km sebelah timur dari lokasi Lusi), tekanan fluida disini sekitar 9000 psi dengan kedalaman sekitar 9000 kaki atau sekitar 3000 meter.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa adanya tekanan besar di Formasi Batugamping Kujung, serta adanya pola-pola rekahan (fractures) yang sudah ada sebelum kejadian. Pola-pola ini dikenali dari data seismic. Namun sepengetahuan saya, sebelum kejadian tidak ada yang memetakan adanya rekahan atau patahan Watukosek yang memanjang hingga lokasi pengeboran.

Awal pengeboran (Early drilling operation)

slide2.gif Seperti yang dituliskan oleh Pak Rudi bahwa tidak terjadi hal-hal yang serius ketika melakukan pengeboran awal. Hanya terjadi pemasangan selubung yang terlalu dini (Premature set) seperti yang digambarkan diatas. Hal ini mungkin karena adanya tekanan yang tidak terduga dibagian atas sehingga harus dilakukan pemasangan pipa selubung (casing) lagi walaupun baru mengebor sekitar 2000 feet (kaki), atau sekitar 1000 feet dari casing sebelumnya di 1300 feet.

Hingga kedalaman 9277 feet pengeboran masih tergolong normal. Pada tanggal 27 May 2006 itu di Jogja sedang terjadi gempa besar dengan kekuatan 6.3 SR (USGS). Ada yg menduga gempa ini menyebabkan likuifaksi, namun dibantah dengan perhitungan yg tertulis dan gambar yang dilampirkan Pak Koesoema ketika membuat surat terbukanya. Masalah ini masih kontroversi, kita kesampingkan dahulu kali ini.

Kondisi kritis saat pengeboran (Critical moment on drilling)

slide3.gif Kondisi kritis terjadi ketika drilling mencapai kedalaman 9297. Saat itu terjadi kehilangan lumpur dan diikuti dengan kick (lost-gain).

Operasi yang terjadi saat mengalami lost-gain inilah yang merupakan kondisi kritis pengeboran. Penanganannya memerlukan keahlian drilling engineer yang berpengalaman menurut Dr Rudi Rubiandini.

Menurut Dr Andang Bachtiar, penanganan yang kurang tepat pada saat kritis ini yang diduga menyebabkan pecahnya batuan dibawah (underground fracture (UGBO), mungkin saat penyemenan, atau saat kill well. Dr Rudi Rubiandini juga meyakini terjadinya UGBO.

Awal kelahiran (Underground Blow Out – UGBO)

slide4.gifPada saat terjadi pecahnya batuan akibat UGBO, maka terjadi aliran fluida dari batuan dibawah yang bertekanan tinggi masuk ke batuan yang bertekanan rendah diatasnya.

Menurut teori dalam pengeboran, zona terlemah dalam pengeboran terletak pada kedalaman dekat dengan casing shoe atau sepatu pipa selubung. Yaitu sekitar kedalaman 3500 feet. Kedalaman ini sebelumnya sudah diukur kekuatannya sebesar 14 ppg.

Indikasi terjadinya blow out pada awal ini diindikasi oleh Dr Rudi Rubiandini dalam seminarnya di IAGI bulan September 2006, “Saat erupsi pertama, yang keluar adalah air–asin–panas dari kedalaman 6150 –6500 ft yang naik sambil menggerus shale ataur eactive-shale atau mud-diapir pada kedalaman 6100 –1700 ft”. Indikasi air asin ini menunjukkan bahwa air berasal dari laut yang kemungkinan besar merupakan air yang berasal dari Batugamping Kujung (Formasi Kujung).

tingay-2005.gifMekanisme semburan seperti ini pernah terjadi di Brunei dimana Shell melakukan pengeboran di laut yang menyebabkan semburan selama puluhan tahun. Tingay (2005) meneliti geomechanics di daerah Brunei Darussalam dan menggambarkan mekanisme UGBO seperti yang tergambar disebelah kanan ini.

Proses transisi (Transition Process)

slide5.gifPada saat transisi inilah terjadi penurunan tekanan pada fluida Formasi Kujung. Tentusaja. Formasi Kujung ini memilki fluida yang bertekanan hingga 9000 psi dari pengukuran di Sumur Porong-1 yang terletak 7 Km dari okasi sumur Banjarpanji-1.

Secara mudah dapat dimengerti bahwa akan terjadi selisih tekanan yang cukup besar ketika fluida di Formasi Kujung ini mengalir keatas, sambil terus menerus menggerus shale atau batulempung yang dilewatinya.

Hingga pada suatu saat batuan yang memisahkan Formasi kujung dengan sumber hydrothermal dibawahnya tidak kuat lagi menahan selisih tekanan.

Sesuai dengan perhitungan sebelumnya yang dilakukan oleh ahli-ahli dari Lapindo ketika memperkirakan bahwa fluida ini akan habis selama 3 bulan. Dan benarlah dugaan ini, yang terjadi setelah tiga bulan adalah .. ledakan hydrothermal !! Ledakan ini terjadi pada tanggal 27 Agustus 2006, kira-kira 3 bulan setelah awal semburan.

slide12.gifSangat beruntung tim penanganan pada saat awal yang dipimpin Pak Rudi Rubiandini dalam team relief well ini memiliki pengukuran yang cukup detil dari hari-kehari dengan mencatat besarnya flowrate (debit lumpur ini). Gambar disebelah ini sangat jelas menunjukkan kronologi tersebut.

Sebelum terjadi ledakan hydrothermal juga tercatat adanya runtuhan bawah permukaanyang ditandai dengan berhentinya semburan (intermitten flow) Lihat tanda panah hijau dari catatan asli Dr Rudi Rubiandini disebelah kiri ini.

Paling tidak harus ada pembelajaran sampai saat ini, yaitu ketika terjadi aliran yang mulai “batuk-batuk” (intermitten) maka dapat diartikan atau diinterpretasikan telah terjadi runtuhan dibawah sana. Setelah terjadi runtuhan dibawah permukaan maka akan segera diikuti terjadi amblesan dipermukaan.

Tentunya masih ingat bahwa semburan sempat terhenti selama 30 menit pada tanggal 20 Maret 2007 yang akhirnya diikuti dengan amblesan setempat yang menyebabkan lubernya tanggul sebelah barat hingga menutup jalan raya Porong sejak pekan lalu.

Proses akhir (Late process)

slide6.gif Yang terlihat saat ini adalah proses hydrothermal dimana keluarnya semburan uap panas yang berasal dari sumber dapur hydrothermal yang berada dibawah Formasi Kujung.

Air yang keluar saat ini sudah berbeda dengan yang keluar pada saat awal semburan. Air yang keluar bukanlah air asin (air laut) yang terjebak pada Batugamping Kujung lagi.

Setelah terbentuknya proses ini jelas terlihat bahwa hanya awal 3 bulan itulah yang merupakan golden time period. Dan sepertinya Dr Rudi Rubiandinipun sudah terlambat menghambat kelahiran Lusi yg semakin memanas ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa di Mud Volkano lainnya tidak berkembang menjadi proses hydrothermal seperti Lusi ? Ya, seperti kita ketahui bahwa sumber panas tentusaja dari proses volkanisme. Mud volkano atau gunung lumpur di Madura serta di Bledug Kuwu sangat jauh dari aktifitas volkanisme. Sehingga ketika terjadi atau terbentuk semburan lumpur ini tiak berkelanjutan. Demikian juga dengan UGBO yang merupakan kejadian yang sering terjadi dalam pengeboran di migas. Dimana seringkali pengeboran migas ini berjauhan dengan aktifitas gunung api.

hydrothermal-source.jpgSumber fluida berdasarkan atas suhu serta penurunan suhu yang dibuat oleh D Rudi Rubiandini diinterpretasikan ulang. Karena saat ini diketahui adanya kemungkinan sumber lain dari air tersebut maka diperkirakan sumber hydrothermal berada pada kedalaman dibawah 9000-10000 feet.Harus diuji kebenarannya.

Hipotesa diatas tentunya masih bukan berupa bukti kebenaran. Masih banyak yang harus dilakukan untuk dibuktikan. Misalnya bagaimana dengan kronologi atau laju amblesan, apakah mendukung atau menolak hipotesa kronologi detak-detak kelahiran lusi ini. Mungkin Pak Hassanudin dari geodesi ITB dapat menyumbangkan data laju amblesan dari wkjtu-kewaktu. Kemudian bagaimana dengan dugaan air dari Gunung Penanggungan ini ? Ini bisa dibuktikan dengan uji laboratorium terhadap air yang keluar saat ini, seperti yang disarankan Dr Lambok, seorang ahli hydrologist. Dan masih banyak lagi uji saintifik terhadap hipotesa detak-detak kelahiran Lusi ini.

Referensi :

  • Presentasi Dr Rudi Rubiandini pada seminar di IAGI tanggal 29 September 2006.
  • Present-day stress orientation in Brunei: a snapshot of ‘prograding tectonics’ in a Tertiary delta, Journal of the Geological Society, Jan 2005 by Tingay, Mark R P, Hillis, Richard R, Morley, Chris K, Swarbrick, Richard E, Drake, Steve J
  • Koran, Media, diskusi IAGI-net, dll.
Posted by: riobm | June 6, 2007

Sumber Tekanan LUSI

Copied from rovicky.wordpress.com

Tentunya masih ingat tulisan tentang tekanan hidrostatis atau tekanan air yang menyebabkan muncratnya air tanah kan ? Semburan dari bawah tentunya disebabkan oleh gaya atau tenakan dari bawah. Sudah sejak awal sumber tekanan yang ada di LuSi juga diperdebatkan. Apa saja sumber tekanan ini? Paling tidak ada tiga jenis tekanan di LuSi yang dapat dipakai sebagai awal hipotesa. Masing-masing akan memiliki karakteristik tersendiri dan juga memiliki penyebab serta penanganan yang berbeda.

Ketiga tekanan yang mungkin harus dilawan untuk mengontrol, mengurangi, atau bahkan menghentikan Lusi yaitu :

  • Tekanan Hidrostatis
  • Tekanan Lithostatik
  • Tekanan gas (Gas Drive)

Tekanan hidrostatik

Tekanan hidrostatis ini paling mudah dipahami, karena merupakan tekanan akibat tinggi kolom air. Mestinya masih ingat tulisan disini ketika muncul sumber air artesis setelah gempa Jogja. Secata teoritis ketinggiannya akan sama dengan tinggi air permukaan di gunung. Namun pada kenyataannya ketinggiannya memang tidak setinggi gunung, tetapi akan lebih mengikuti pola permukaan. Lihat gambardibawah.

tekanan_lusi.jpg

Untuk melawan tekanan hidrostatis ini akan lebih mudah karena besarnya akan sangat terukur dengan mudah dan apabila dilawan dengan tinggi kolom yang menahan maka tekanan tersebut akan dapat dilawan. Salah satunya ya counter weight atau metode Capping.

Tekanan Lithostatik.

Tekanan lithostatik ini lebih disebabkan oleh beban (overburden), karena batuan yang berada diatasnya. kalau saja kita ingat rumus tekanan adalah rho (berat jenis) x h (ketinggian), maka tekanan ini suangatlah besar, karena besarnya seberat batuan yang berada diatasnya.

Batuan lumpur yang mecotot keluar ini disebabkan oleh tekanan batuan diatasnya yang menekan. Tekanan ini tidak mudah dilawan tetapi akan sangat munkin akan terhenti dengan sendirinya kalau lubang tempat keluarnya lapisan liat dan lunak ini tertutup sendiri oleh beban diatasnya. Lapisan yang keluar ini biasanya lempung plastis.

Tekanan Gas

Teakanan gas ini pernah terlihat ketika terjadi ledakan pada tanggal 25 Agustus 2006. Penyebabnya adalah gas yang terkandung didalam air mengalami ekspansi karena suhu yang tinggi. Ini mirip dengan menjerang air. Ketika air mendidih maka kandungan gas yang ada dalam air akan keluar menjadi gelembung-gelembung udara. Ketika gelembung ini sampai dipermukaan akan terlihat seperti gelembung2 plupuk-plupuk atau dikenal dengan “bubble”. Mekanisme ini bisa dilihat disini ketika cerita tentang detak-detak kelahiran Lusi.

Melawan tekanan gas ini boleh dibilang mission impossible, karena harus mencegah timbulnya gelembung (bubble). Pada kedalaman tertentu gelembung ini baru akan muncul,kondisi ini disebut kondisi bubble point, atau kondisi dimana kandungan gas didalam likuid (air) keluar menjadi gas. Salah satu cara adalah dengan menghambat selama mungkin aliran. Semakin cepat aliran lumpur dan air ini ke permukaan maka pembentukan gas akan semakin cepat. Kalau kita mampun menahan laju aliran, maka diperkirakan laju pembentukan gelembung juga akan bisa dihambah. Salah satu caranya ? Menggunakan HDCB.

Mungkinkan melawan ketiga-tiganya ?

Kemungkinan sih selalu saja, hanya perlu diingat bahwa masing-masing sumber gaya dan tekanan serta tenaga ini tidak berdisi sendiri. Merka akan saling terkait, dan alam memilki caranya sendiri. Demikian juga manusia memiliki cara tersendiri untuk bergaul, bercengkerama, dan hidup bersama alam.

Older Posts »

Categories